Loading...

Benarkah Memuja Leluhur itu Salah Dalam Konsep Agama Hindu di Bali?

November 06, 2017

Belakangan ini semeton Hindu Bali agak sedikit terganggu dengan penafsiran yang mungkin kurang pas tentang bhakti marga, dimana dikatakan bahwa umat hindu bali yang menjalani tradisi gama bali atau gama tirta kurang mengikuti ajaran sesuai weda sesuai aslinya. ini diakibatkan oleh penafsiran atas sloka Bhagawad Gita oleh sekelompok umat hindu yang mengikuti ajaran sampradaya. bagi mereka memuja leluhur itu kurang tepat, karena yang lebih tepat adalah memuja tuhan, dimana tuhan yang dimaksud dalam penafsiran mereka terhadap kitab bhagawad gita adalah sosok tokoh sri krisna.

dalam anggapan mereka, krama bali yang meneruskan tradisi gamabali sebagai "terbelakang" atau "kurang paham ajar­an agama" atau sebutan lainnya, yang mengesankan seolah-olah mereka lebih tahu masalah agama dibandingkan kita orang bali

jadi... menurut mereka (kelompok umat sampradaya) menganggap bahwa pemujaan kepada leluhur maupun kepada dewa itu kuranglah sesuai dan tepat. berikut ini petikan sloka bhagawad gita yang ditafsirkan sebagai hukum pembenaran yang menyatakan pemujaan kepada leluhur oleh krama hindu bali tersebut salah;

yanti deva-vrata devan
pitrn yanti pitr-vratah
bhutani yanti bhutejya
yanti mad-yajino 'pi mam (BG IX.25)


yang sering diartikan;
Yang memuja dewata pergi ke­pada dewata, kepada leluhur perginya yang memuja leluhur me­reka, dan kepada roh alam perginya yang memuja roh alam, te­tapi mereka yang memuja-Ku, datang kepada-Ku.”


Ketiga bentuk pemujaan ini, baik kepada dewa-dewa, leluhur, maupun roh suci yang ada di alam, semuanya mendapatkan pahala. Semuanya bisa dibenarkan, namun Krisna mengajarkan jika umat memuja Tuhan secara langsung, itulah yang terbaik.
yang bagaimana disebut dengan memuja TUHAN secara langsung..?
bukankah tuhan memiliki ribuan sinar? yang dalam ajaran reg weda, sinar suci tuhan ada 33?
dari 33 tersebut, yang manakah tuhan?
bukankah tuhan ada disetiap ciptaanNya?

mungkin mereka lupa dengan sloka Bhagawad gita berikut ini; 

yo yo yam yam tanum bhaktah
sraddhayarcitum icchati
tasya tasyacalam sraddham
tam eva vidadhamy aham (BG VII.21)


yang maksudnya:
"apa­pun bentuk kepercayaan yang ingin dipeluk oleh penganut aga­ma, Aku perlakukan kepercayaan mereka sama supaya tetap te­guh dan sejahtera”. 


Sloka ini adalah kelanjutan dari penjelasan bagai­mana jika umat menyelengarakan ritual untuk memuja dewa­ta. Di sini jelas disebutkan bahwa perbedaan dalam melakukan pe­mujaan itu hasilnya sama saja menuju Aku (Tuhan Yang Esa).

nah kembali ke pemujaan leluhur, dimana oleh krama hindu bali pemujaan tersebut biasanya dicirikan dengan adanya bangunan sanggah kemulan, dewa hyang, pelinggih pitra ataupun pelinggih ibu. disamping itu ciri pemujaan leluhur yang sangat melekat pada krama hindu penganut ajaran gamabali adalah dengan adanya kawitan, melalui pura kawitan.

benarkah, pemujaan tersebut salah...?


adakah dasar sastra yang membenarkan adanya jalan bhakti lewat pemujaan leluhur?


untuk itu mari cermati...

krama/orang balimengawali pemujaan leluhur karena beberapa hal, pertama adanya sloka dalam Upanisad, dan yang kedua adanya contoh dari itihasa. dasar sloka suci Taittiriya Upanisadyang menjadi acuan dalam pemujaan kepada leluhur adalah

matrdevo bhava pitrdevobhava, acaryadevo bhava atithidevo bhava(Taittiriya Up.I.11)


yang artinya:
seorang ibu adalah dewa, seorang bapak adalah dewa, seorang guru adalah juga dewa dan para tamu pun adalah dewa. 

dari sloka diatas, dapat dilihat bahwa orang tua, orang yang menyebabkan kita lahir adalah dewa yang hendaknya kita puja dan hormati. atas jasa-jasa beliau kita bisa hadir didunia ini, karena itu setiap manusia memiliki kewajiban untuk mengingat hal tersebut, yang kemudian dikenal dengan sebutan Pitra Rna, yaitu hutang atau kewajiban yang harus dijalankan untuk mengenang jasa-jasa orang tua kita beserta orang yang telah mengadakan orang tua kita atau leluhur.

untuk "membayar hutang" (pitra rna) kepada orang tua kita tersebut, terdapat 3 jalan, diantaranya:

semasa hidup dilakukan Manusa Yadnya. Manusa Yadnya disini maksudnya dimana seorang anak/cucu selalu hormat dan melayani orang tua beserta keluarga, dimana orang tua tinggal dan saudara keluarga tempat orang tua kita dilahirkan.


saat meninggal dunia dilakukan Pitra Yadnya. Pitra yadnya dilakuan, mulai dari semenjak meninggal hingga beliau disemayamkan dalam tempat suci keluarga, dan ritual terakhirnya adalah yadnya panilapatian yang maknanya mengangkat status leluhur menjadi hyang guru, sehingga beliau dapat berstana di sanggah kemulan.


dan bukti besarnya ikatan cinta kepada keluarga, dilakukanlah Dewa Yadnya. Dewa Yadnya disini maksudnya, setelah leluhur menjadi hyang guru, kita anak cucu keturunannya senantiasa mengingat keberadaan beliau dengan melakukan yadnya piodalan yang artinya merayakan untuk memperingati pertama kalinya dilaksanakan dewa yadnya untuk sanggah kemulan tersebut.


seruan melakukan yadnya kepada leluhur juga tersirat dalam kekawin ramayana, yang berbunyi:

Gunamanta sang Dasaratha, Wruh sira ring weda bhakti ring dewa, Tar malupeng pitra puja, Masih ta sireng swagotra kabeh


yang artinya:
Keutamaan sang Dasaratha,Beliau paham akan Weda, berbakti kepada Tuhan, Tidak pernah lupa memuja leluhur, Juga sayang terhadap keluarga dan rakyat


Dalam Kitab Taittriya Upanisad dikatakan sebagai berikut :

Pitri Deva Bhava, Matri Deva Bhava


Artinya:
Ayah dan Ibu ibarat perwujudan  Dewa dalam keluarga.


Dari sebelum kita lahir kita sudah diupacarai kemudian setelah lahir, beranjak remaja hingga akhirnya menikah juga diupacarai. Mereka sangat berperan dalam kehidupan kita. Itulah mengapa dikatakan mulai dari Orang Tua hingga keatasnya wajib untuk kita selalu berbhakti baik ketika masih hidup ataupun sudah wafat.

Pahala Berbhakti Kepada Leluhur

Dalam Kitab Sarasamuccaya, disebutkan ada empat pahala bagi mereka yang berbhakti kepada leluhur, yaitu sebagai berikut :

Kirti, “kirti ngaran paleman ring hayu” artinya selalu dipuji dan didoakan untuk mendapatkan kerahayuan.


Ayusa, “ayusa ngaraning urip” artinya berumur panjang atau dapat dikatakan senantiasa akan selalu dalam keadaan sehat.


Bhala, “bhala ngaraning kesakten’ artinya sakti atau kesaktian. Sakti disini ialah dalam arti kita akan menjadi pribadi yang kuat mental / tangguh dalam menjalani hidup.


Yasa,  Jasa akan selalu meninggalkan yang baik.  Bagi mereka yang berbhakti kepada leluhur maka akan meninggalkan jasa-jasa baik kepada keturunannya maupun masyarakat luas.


Dari keempat pahala diatas yang telah disebutkan dapat disimpulkan berbhakti kepada Leluhur adalah suatu hal yang baik. Melaksanakan atau menjalani hal yang baik maka kita pun akan mendapatkan hal yang baik. Karena hidup kita didasari oleh Karma.

Tuhan Tetap Menjadi Bhakti Yang Utama

Berbhakti kepada leluhur dalam rangka berbhakti kepada Tuhan sangat dianjurkan dalam kehidupan beragama Hindu. Dalam Mantra Rgveda X.15 1 s.d. 12 dijelaskan tentang pemujaan leluhur untuk memperkuat pemujaan kepada Tuhan. Dalam Bhagawad Gita diajarkan kalau hanya berbhakti pada bhuta akan sampai pada bhuta. Jika hanya kepada leluhur akan sampai pada leluhur, kalau berbhakti kepada Dewa akan sampai pada Dewa. Karena itu, berbhakti kepada bhuta, pitra dan dewa dalam rangka berbhakti kepada Tuhan.

Dalam Manawa Dharmasastra ada sloka yang menyatakan, bakti kepada leluhur mendahului berbhakti kepada Tuhan. Karena bhakti sebelumnya akan memperkuat bhakti selanjutnya. Jika diambil contoh misalnya, ketika ada seorang anak yang begitu berbhakti kepada orang tuanya maka tentu si anak akan menjadi lebih berbhakti kepada Tuhan yang telah menciptkan orang tuanya.

Jadi menurut kami berbhakti (pemujaan) kepada Leluhur bukanlah disamakan dengan menduakan Tuhan akan tetapi sebaliknya yaitu bertujuan untuk memperkuat pemujaan kepada Tuhan.  Maka harus diingat bhakti kepada Tuhanlah bhakti yang tertinggi.

Bagaimana dengan memuja GURU?

memang benar, seorang guru diidentikkan dengan dewa, karena itulah dibali SULINGGIH disebut meraga PUTUS yang artinya boleh memutuskan sebuah perkara yang dimintai pertimbangan kepada beliau, dan hasil putusan tersebut bersifat final, ini terjadi dalam budaya bali karena GAMA BALI sangat menghayati filosofi YOGA, yang juga merupakan implementasi dari Taittiriya Upanisad.

tetapi, apakah pemujaan kepada leluhur dapat digantikan hanya dengan memuja GURU saja?


jawabannya... TIDAK
memang belakangan ini, ada sekelompok umat dibali yang sering mengaburkan arti dari Taittiriya Upanisad tersebut, konsep yoga yang mengganggap perintah guru adalah perintah dewa diangap lebih utama daripada perintah leluhur maupun orang tua.
mari kita bandingkan, sloka Taittiriya Upanisad I.11 dan Bhagawad Gita IX.25. kedua sloka tersebut lebih mengutamakan Dewa dan leluhur, disusul kemudian guru dan tamu.
dilihat dari sloka tersebut, posisi leluhur lebih didahulukan dartipada guru dan tamu. dan dilihat dari wujud dewa yang dimaksud dalam sloka Taittiriya Upanisad I.11 guru dan tamu, guru lebih diutamakan.
sekarang sesuai logika, kenapa guru dan tamu dikatakan sebagai wujud dari dewa?
karena guru yang membimbing kita menjadi lebih bijaksana dan tamu merupakan tempat kita menguji kebijaksanaan yang telah dipelajari. karena itulah, seorang guru dan tamu disambut bagaikan seorang dewa.

Sloka tentang Pemujaan Leluhur (Pitra Yadnya)


Untuk lebih memantapkan keyakinan kita, bahwa memuja leluhur sangat penting, berikut ini beberapa sloka yang berkaitan dengan hal tersebut:


ud iratam avara ut parasa un madhyamah pitarah somyasah


asum ya iyur avrka rtajnas te no 'vantu pitaro havesu 


(Rg Weda X.15.1)


artinya 

Semogalah yang di bawah, paling di tengah, para leluhur pencinta Soma bangkit, semogalah para leluhur itu, yang sangat ramah (penuh persahabatan), yang mengetahui kebanaran, yang hidup dalam keabadian, menganugrahi kami sesuai dengan doa persembahan kami



idam pitrbhyo namo astv adya ye purvaso ya uparasa iyuh


ye parthive rajasy a nisatta ye va nunam suvrjanasu viksu 


(Rg Weda X.15.2)


artinya:
Semogalah dengan kebaktian yang dilaksanakan hari ini, para leluhur yang telah lama pergi dan mereka yang barn saj a meninggal, yang telah duduk di angkasa raya atau yang sekarang bertempat tinggal di tempat yang terang benderang



aham pitrn suvidatram avitsi napatam ca vikramanam ca visnoh


barhisado ye svadhaya sutasya bhajanta pitvas ta ihagamisthah


(Rg Weda X.15.3)


artinya
Kami memperoleh berlimpah anugrah dari para leluhur, kakek, dan Sang Hyang Wisnu, mereka yang duduk bertebaran, akan ikut serta dalam acara pemerasan minuman dengan persembahan kepada yang telah meninggal, datanglah kemari dengan penuh kegembiraan



barhisadah pitara uty arvag ima vo havya cakrma jusadhvam


ta a gatavasa samtamenatha nah sam yor arapo dadhata


(Rg Weda X.15.4)


artinya: 
Wahai para leluhur yang duduk bertebaran, datanglah kemari dengan (membawa) pertolongan, upacara persembahan ini kami persembahkan untuk anda, semoga anda berbahagia. Datanglah dengan pertolongan bermanfaat, karuniailah kami kesehatan, rahmat dan bebaskan dari keperihan



upahutah pitarah somyaso barhisyesu nidhisu priyesu


ta a gamantu ta iha sruvantv adhi bruvantu te 'vantv asman


(Rg Weda X.15.5)


artinya: 

Dimohon kehadiannya para leluhur pecinta Soma untuk tempat yang tersimpan dan amat disayangi, tempat yang bertebaran, semogalah mereka (para leluhur) datang kemari, semogalah mereka mendengarkan dan berkenan untuk bercakap-cakap dan memberikan pertolongan kepada kita



acya janu daksinato nisadyema yajnam abhi grnita visve


ma himsista pitarah kena cin no yad va agah purusata karama


(Rg Weda X.15.6)


artinya: 
Duduk bersila dengan kaki terlipat di arah selatan, menganugrahkan karunia yang berlimpah terhadap upacara, tidak melukai kita, wahai para leluhur, berdasarkan alasan ini, perbuatan dosa apapun yang telah kami lakukan kepada anda, wahai para leluhur, itu adalah karena kelemahan kami (sebagai umat manusia)




asinaso aruninam upasthe rayim dhatta dasuse martyaya


putrebhyah pitaras tasya vasvah pra yachata ta ihorjam dadhata


(Rg Weda X.15.7)


artinya: 
Duduk di haribaan fajar merah, memberikan kekayaan kepada penyembahnya yang fana. Untuk putra (keturunan) anda, wahai para leluhur, anugrahkanlah kekayaan itu, demikian pula anda menganugrahkan kekuatan (kepada kami)




agnisvattah pitara eha gachata sadah-sadah sadata supranitayah


atta havimsi prayatani barhisy atha rayim sarvaviram dadhatana


(Rg Weda X.15.11)

artinya: 
Wahai pan leluhur (badan anda) telah dilalap api, datanglah kemari, silakan duduk pada tempat duduk yang telah disiapkan masingsmasing, anda adalah pembimbing (kehidupan), yang menikmati persembahan yang ditaburkan bertebaran, kemudian anda menganugrahkan kekayaan diikuti oleh seluruh putra-putra yang kuat

Pengertian Catur Yuga Menurut Weda Dalam Agama Hindu

Pengertian Catur Yuga Menurut Weda Dalam Agama Hindu

November 06, 2017

Dalam konsep Hindu kita kenal dengan empat jaman yaitu Catur Yuga. Yuga (Dewanagari: युग) atau 1 Mahayuga adalah suatu siklus perkembangan zaman yang terjadi di muka bumi, yang terbagi menjadi empat zaman

Adapun zaman tersebut secara berturut-turut berputar searah jarum jam adalah zaman:

Kerta Yuga atau Satya Yuga, 


Treta Yuga, 


Dwapara Yuga, dan 


Kali Yuga. 


Menurut ajaran Hindu, keempat zaman tersebut membentuk suatu siklus, sama seperti siklus empat musim. Siklus tersebut diawali dengan Satyayuga, menuju Kaliyuga. Setelah Kaliyuga berakhir, dimulailah Satyayuga yang baru. Perubahan zaman dari Satyayuga (zaman keemasan) menuju Kaliyuga (zaman kegelapan) merupakan kenyataan bahwa ajaran kebenaran dan kesadaran sebagai umat beragama lambat laun akan berkurang, seiring bertambahnya umat manusia dan perubahan zaman. Dimana pada akhirnya manusia akan merasa bahwa di suatu masa yang sudah tua, ketika bumi renta, ketika kerusakan moral dan pergeseran budaya sudah bertambah parah, maka sudah saatnya untuk kiamat.


Siklus tersebut dimulai dari zaman keemasan (Satyayuga), dan diakhiri oleh zaman kegelapan (Kaliyuga). Setelah zaman kegelapan berakhir, dimulailah zaman keemasan yang baru, sama halnya seperti perubahan musim dingin ke musim semi, dan siklus tersebut berlangsung selama ribuan tahun. Ketika masa kegelapan berakhir, maka zaman baru akan muncul, dimana manusia-manusia yang memiliki sifat jahat sudah dibinasakan sebelumnya untuk memulai kehidupan baru yang lebih damai. Itulah siklus masa dari Satyayuga menuju Kaliyuga, dan Kaliyuga akan kembali kepada Satyayuga. 

Periode dari Satyayuga menuju Kaliyuga disebut 1 Mahayuga. 

Setelah Mahayuga berlangsung selama 71 kali, maka tercapailah suatu periode yang disebut Manwantara. Setelah 14 Manwantara berlangsung, maka dicapailah suatu periode yang disebut Kalpa. Menurut ajaran Hindu, pada saat periode tersebut dicapai, maka alam semesta dihancurkan, dan dimulai kembali dari awal jaman.

Perputaran kerja alam semesta dikaitkan dengan simbol swastika.

simbol Swastika ini dapat dikaitkan dengan waktu perputaran jaman pada alam semesta tersebut yang tiada akhir.

Karakter setiap zaman

Pada masa Satyayuga, kesadaran umat manusia akan Dharma (kebenaran, kebajikan, kejujuran) sangat tinggi. Budaya manusia sangat luhur. Moral manusia tidak rusak. Kebenaran sangat dijunjung tinggi sebagai aturan hidup. Hampir tidak ada kejahatan dan tindakan yang melanggar aturan. Maka dari itu, zaman tersebut disebut juga ‘zaman keemasan’.


Masa Tretayuga merupakan zaman kerohanian. Sifat-sifat kerohanian sangat jelas tampak. Agama menjadi dasar hidup. Meskipun begitu, orang-orang mulai berbuat dosa dan penjahat-penjahat mulai bermunculan. Pada zaman ini, seseorang yang pandai, memiliki pengetahuan dan wawasan luas, serta ahli filsafat akan sangat dihormati.


Pada masa Dwaparayuga, manusia mulai bertindak rasional. Penjahat-penjahat dan orang-orang berdosa bertambah. Kelicikan dan kebohongan mulai tampak. Yang diutamakan pada zaman ini adalah pelaksanaan ritual. Asalkan mampu melaksanakan upacara, maka seseorang akan dihormati. Akhir zaman Dwapara dimulai ketika Kresna meninggal, setelah itu dunia memulai zaman terakhir, Kali Yuga.


Zaman terakhir, Kaliyuga, merupakan zaman kehancuran. Banyak manusia mulai melupakan Tuhan. Banyak moral manusia yang rusak parah. Kaum pria banyak berkuasa dan wanita dianggap sebagai objek pemikat nafsu mereka. Banyak siswa berani melawan gurunya. Banyak orang-orang yang mencari nafkah dengan tidak jujur. Dan banyak lagi kepalsuan, kebohongan, kejahatan, dan tindak kekerasan. Pada zaman ini, uang yang paling berkuasa. Hukum dan jabatan mampu dibeli dengan uang.

Sesuai dengan karakter pada masing-masing zaman, terdapat hal-hal yang diutamakan, yakni:

Dhyana (bermeditasi, mengheningkan pikiran) pada Satyayuga. Pada masa itu, pelaksanaan meditasi dan memusatkan pikiran kepada Tuhan yang paling diutamakan dan orang yang melaksanakannya akan dipuji-puji dan dihormati.


Jnyana (belajar, memiliki pengetahuan) pada Tretayuga. Pada masa itu, pengetahuan yang diutamakan dan pendidikan mendapat perhatian penuh pada masa itu. Orang-orang yang pandai dan terpelajar akan diistimewakan dan sangat dihormati pada masa itu.


Yajnya (mengadakan ritual) pada Dwaparayuga. Pada zaman tersebut, pelaksanaan ritual yang diutamakan. Asalkan seseorang melaksanakan ritual maka ia akan dihormati, tidak peduli kaya atau miskin, baik atau jahat.


Dana (memiliki uang, memberi kekayaan) pada Kaliyuga. Pada zaman itu, uang dan kekayaan yang paling diuatamakan. Asalkan seseorang memiliki kekayaan, maka ia akan dihormati dan berkuasa. Budi pekerti tidak lagi dihiraukan, malah orang yang pandai akan menjadi bahan ejekan. Pada masa itu, dengan uang seseorang dapat membeli kehormatan.



Jangka waktu pada masing-masing zaman

Menurut perhitungan tradisional

Dalam Caturyuga atau Mahayuga memiliki rentang usia 4.320.000 tahun, setiap zaman yang berlangsung memiliki jangka waktu. Menurut salah satu perhitungan tradisional, masing-masing zaman memiliki jangka waktu yang berbeda, dan bila digabungkan, akan membentuk suatu periode yang disebut 1 Mahayuga. Secara singkat dijabarkan seperti di bawah ini:

Satyayuga (1.728.000 tahun)


Tretayuga (1.296.000 tahun)


Dwaparayuga (864.000 tahun)


Kaliyuga (432.000 tahun)

Kalpa adalah hari Brahma.
1 kalpa = 1 hari Brahma yang berlangsung selama 1.000 x Catur-Yuga, atau 1.000 x 4.320.000 = 4.320.000.000 th Bumi.
Kalpa-pralaya terjadi pada malam hari Brahma. Ini berarti setiap malam hari Brahma terjadi pralaya. 

Menurut Sri Yukteswar

Sri Yukteswar memiliki perhitungan lain. Menurut Sri Yukteswar, dalam bukunya The Holy Science, Satyayuga berlangsung selama 4.800 tahun, Tretayuga berlangsung selama 3.600 tahun, Dwaparayuga berlangsung selama 2.400 tahun, dan Kaliyuga berlangsung selama 1.200 tahun.

Menurut Sri Yukteswar, Kaliyuga dimulai pada tahun 499 SM, dan semenjak tahun 1699 M, dunia ini sudah melalui masa Dwaparayuga kembali. Siklus yang dimaksud oleh Sri Yukteswar adalah siklus yang mundur ke belakang, bukan kembali ke awal.

Masa 1.200 tahun menurut perhitungan Sri Yukteswar konon merupakan jangka waktu yang sebenarnya dari zaman Kaliyuga. Namun masa tersebut bukan tahun biasa seperti tahun di bumi, melainkan tahun Dewa. Masa 1.200 tahun Dewa sama dengan masa 432.000 tahun di bumi.
Jangka waktu tersebut menjadi dasar perhitungan yang terkenal, seperti yang dijabarkan kitab Bhagawadgita yang disusun oleh Om Visnupada A.C.B. Swami Prabhupada. Menurut kitab tersebut, masa Kali Yuga dimulai ±5.000 tahun yang lalu (konon pada saat raja Yudistira naik tahta dan Kresna meninggal, yaitu tahun 3102 SM) dan akan terus berlangsung, kurang lebih selama 432.000 tahun.

pada Masing-masing yuga memiliki kitab hukum masyarakat (Dharma Sastra-nya) tersendiri, seperti berikut :

Pada zaman Satya/Krtha Yuga berlaku kitab Manawa Dharma Sastra karya sastra dari Bhagawan Manu.


Pada zaman Treta Yuga berlaku kitab Dharma Sastra yang ditulis oleh Bhagawan Yajnawalkhya.


Pada masa Dwapara Yuga berlaku kitab Dharma Sastra buah karya Bhagawan Sankha Likhita.


Pada masa Kali Yuga dipergunakanlah Dharma Sastra yang ditulis oleh Bhagawan Parasara.


Diantara keempat kitab Dharma Sastra tersebut, yang diterapkan untuk masing-masing Catur Yuga memiliki sifat saling mengisi atau melengkapi diantara satu dengan yang lainnya.



Catur Yuga


Adapun Penjelasan singkan dari masing-masing bagian dari catur yuga;

Kerta Yuga,


merupakan masa yang penuh kedamaian dimana pada masa tersebut tidak ada manusia yang berbuat adharma walaupun hanya dalam pikiran. Manusia pada masa itu selalu mematuhi ajaran-ajaran kebenaran dan tiada pernah menyakiti mahluk lain baik dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan. Yang ada dalam kehidupan manusia pada masa tersebut adalah : berbuat untuk kesenangan orang lain dan berjalan diatas jalannya dharma sehingga jaman tersebut sering juga dinamakan: Zaman Satya Yuga yang mengandung arti bahwa pada masa itu manusia hidup didalam kesetiaan. “Masa kertayuga ini berlangsung selama 1.460.000 tahun manusia dengan ketentuan masa berikutnya berkurang satu”. (Penjelasan Manawadharmasastra hal. 45).

Treta Yuga,


Zaman selanjutnya disebut Trta Yuga yang merupakan masa kedua dari catur yuga. Pada masa ini pikiran manusia mulai dikotori oleh sesuatu kejahatan untuk menghancurkan manusia lainnya. “Pada masa ini mulailah muncul kerajaan-kerajaan yang memisahkan antara golongan yang satu dengan golongan yang lainnya. Masa ini diawali dengan kehancuran Kerajaan Arjuna Sashrabahu dan diakhiri dengan runtuhnya kerajaan Sri Rama: (I Ketut Nila, Penjelasan Mata Kuliah Wiracarita STKIP Agama Hindu Singaraja th. 1988).

Dwapara Yuga,


pada masa ini manusia sudah mulai berwatak dua yakni sebagian dirinya merupakan kebaikan dan sebagian lainnya tersimpan kejahatan. Pada zaman ini manusia sudah mulai merasa pamrih untuk membantu orang lain, maksudnya mereka membantu orang lain karena ada maksud dan tujuan untuk mendapatkan imbalan dari pekerjaan yang dilakoninya. “Zaman ini diakhiri oleh pemerintahan Parikesit yang merupakan cucunya dari Arjuna”.

Kali Yuga,


merupakan zaman terakhir menurut ajaran Agama Hindu. Bila ditinjau dari segi arti katanya, kaliyuga adalah merupakan kebalikan dari zaman Krta/Satya Yuga, dimana kalau pada zaman krta yuga hati manusia benar-benar tertuju kepada Tuhan sebagai pencipta, pemelihara dan pengembali alam beserta isinya, maka pada zaman kaliyuga kepuasan hatilah yang menjadi tujuan utama dari manusia. Pada zaman ini apabila manusia sudah dapat memenuhi segala sesuatu yang bersifat keduniawian baik itu berupa harta (kekayaan) ataupun tahta (kedudukan) maka puaslah orang tersebut.

Khasiat Les Dan Benda Gaib Lainya

Juli 28, 2017
khasiat les dadap, les jepu, les kelor

Dunia dengan segala isinya memiliki berbagai macam keunikan dan kekuatan gaib yang sulit untuk dinalar dan dimengerti oleh orang-orang awan. Tuhan telah menciptakan tiga jenis makhluk hidup yang ada di bumi ini, yaitu : (1) Makhluk hidup yang memiliki eka pramana (bayu) yaitu tumbuh-tumbuhan, (2) makhluk hidup yang memiliki dwi pramana (bayu dan sabda) yaitu binatang dan (3) Makhluk hidup yang memiliki tri pramana (bayu, sabda dan idep) yaitu manusia. Ketiga dari makhluk hidup diatas memiliki suatu kekuatan dan energi gaib yang berbeda-beda, tergantung dari anugrah Sang Pencipta. Dalam konsep ajaran agama Hindu yang menciptakan makhluk hidup tersebut adalah Dewa Brahma, yang memelihara dunia adalah Dewa Wisnu dan yang melebur/menghancurkan dunia adalah Dewa Siwa (menurut ajaran Tri Murti). 

Pada kesempatan ini penulis akan mengungkapkan tumbuh-tumbuhan, yaitu makhluk hidup yang memiliki eka pramana ( yang mencakup kesemua bagiannya, yaitu akar, batang, ranting, daun, buah, manik/mustika dan sebagainya ) yang memiliki kekuatan gaib yang mampu membantu manusia pada saat manusia mengalami permasalahan-permasalahan di dunia ini, misalnya diserang oleh black magic sehingga mengakibatkan sakit sampai menemui ajalnya, diganggu oleh makhluk-makhluk halus seperti : wong samar, memedi, tonya, dsb.serta yang berkaitan dengan harta benda seperti : rezeki seret, boros, diganggu oleh tuyul/bererong, dsb.
Adapun bagian atau keseluruhan dari tumbuhan ( maksudnya bisa buah saja, batang saja, manik/mustika saja, les saja, dsb) yang memiliki kekuatan gaib adalah sebagai berikut :

1. Nyuh Buta (batok kelapa mata satu)
Disebut nyuh buta, karena tidak seperti pada umumnya kelapa yaitu batoknya bermata tiga sedangkan nyuh buta batoknya bermata satu. Bila anda menemui nyuh buta merupakan suatu keberuntungan yang tak ternilai harganya, karena benda ini mampu memberikan pertolongan/perlindungan bagi kehidupan manusia. Adapun cara penggunaan dan pemeliharaannya adalah sebagai berikut : pertama-tama potong/gergaji buah kelapa tersebut menjadi dua bagian, kemudian keruk semua isi yang berada dalam kelapa tersebut dan tempatkan dalam suatu wadah yang nantinya bisa dijadikan untuk ramuan obat-obatan sedangkan kedua batok yang telah dipotong tersebut ditempatkan dalam suatu peti kayu dan ditaruh ditempat yang aman/kamar suci. Fungsi/manfaat dari Nyuh Buta tersebut adalah untuk melindungi diri dan sekeluarga dari serangan ilmu hitam, pencurian, kebakaran, tanah pekarangan angker, penyakit menular, serangan buta kala, dsb. Adapun ciri-ciri/pertanda gaib yang diberikan ”Nyuh Buta” pada pemiliknya yaitu sehari sebelum diserang oleh kekuatan jahat ( bisa juga bertanda mendapat kebahagiaan/suka cita ) maka batok kelapa tersebut menggelinding kesana kemari di dalam peti kayu tersebut.

2. Tiing Naga Murti/Pering pethook
Tiing/bambu ini berasal dari sebatang bambu (kecil atau besar) yang mempunyai dua sambungan/ruas yang berdekatan sekali di bagian bawahnya. ( Pethook atau bertemu). Kegunaan dari tiing naga murti adalah untuk menolak./mencegah : pencurian, gering grubug/penyakit menular, karang angker, serangan pengiwa/ilmu-ilmu hitam, gering merana di carik (hama penyakit tumbuhan) dan binatang buas/berbisa. Tiing naga murti, bisa dipakai tongkat untuk teman berjalan di malam hari atau ditaruh di dalam rumah, sehingga penghuni rumah dilindungi dari segala mara bahaya. Jika pada saat malam bertemu dengan ular maka dengan dipukul dengan tiing naga murti maka ular tersebut akan mati (walaupun kena ekornya saja apalagi kena kepala atau badannya).

3. Penyalin Naga Murti/Rotan Pethook
Penyalin/rotan ini berasal dari sebatang rotan (kecil atau besar) yang mempunyai dua sambungan/ruas yang berdekatan sekali di bagian bawahnya. Adapun kegunaannya adalah untuk mendatangkan keberuntungan dan kebahagian rumah tangga, menghindari musuh-musuh gaib, penyakit menular, perselisihan/pertentangan keluarga, binatang buas/berbisa, tanah pekarangan angker, ilmu pengiwa dan juga menangkal gering merana/hama penyakit tumbuhan.

4. Manik/Mustika Jambe
            Manik/mustika ini berasal dari buah jambe/pinang. Warna dari manik ini adalah coklat, dibagian dalamnya kelihatan tanda-tanda garis vertikal /horisontal berwarna kuning, atau ada juga yang berwarna kebiruan. Kegunaan dari manik/mustika jambe ini adalah membikin rukun suami istri dan juga sebagai obat sakit tenggorokan, dengan cara merendam manik/mustika tersebut dengan air bersih, kemudian air rendamannya diberikan kepada orang yang sakit, maka dengan kekuatan gaib yang ada pada manik itu menyebabkan sakit tenggorokannya sembuh.

5. Manik/Mustika Nyuh
            Manik ini berasal dari buah kelapa, yaitu tepatnya didalamnya buah kelapa yang besarnya kadang-kadang sebesar telur burung tetapi ada juga yang lebih kecilan. Warna dari manik ini adalah putih, tidak bening (mirip warna susu) dan dibagian dalam kelihatan guratan-guratan yang berkilat. Kegunaan dari manik/mustika nyuh ini adalah untuk mengobati sakit panas, penyakit jantung, paru-paru, tenaga lemah/kurang bergairah, dengan cara merendam manik ini ke dalam air bersih, kemudian air rendamannya diminum, niscaya sakitnya akan cepat sembuh.

6. Manik/Mustika Buluan
            Manik Buluan berasal dari dalam buah rambutan. Warnanya putih tidak bening mirip seperti warna daging buah rambutan dan berurat berwarna coklat. Kegunaannya dapat menyebuhkan penyakit demam, dengan cara merendam manik tersebut ke dalam air bersih. Kemudian air rendamannya diminumkan kepada orang yang sakit, niscaya sakit demamnya segera akan sembuh.

7. Manik/Mustika Kopi
            Manik ini berasal dari dalam buah kopi. Warnanya coklat tidak bening dan dibagian tengahnya ada tanda titik berkilau mirip seperti kilauan intan. Kegunaannya dapat membuat pikiran tenang dan cerdas, menambah energi, menghilangkan/me- musnahkan ilmu pengiwa/ilmu hitam, menolak gering gerubug/penyakit menular, mendatangkan merta/rezeki, menghilangkan racun dari binatang-binatang kecil seperti sengatan tawon, kalajengking,ular dsb, dengan cara menempelkan manik kopi ini pada bagian tubuh yang disengat/digigit. Niscaya racunnya akan keluar karena disedot oleh kekuatan gaib manik kopi.

8. Tiing Empet/ Bambu Tertutup
            Tiing/bambu ini berasal dari sebuah bambu yang lubangnya sudah tertutup. Bagi yang berjodoh menemukan benda ini, maka diberikan ciri-ciri pada malam harinya. Orang yang berjodoh dengan benda ini akan melihat adanya sinar yang muncul dari salah satu batang bambu, jika dia melihat bambu tersebut dimalam hari. Kegunaan dari benda ini adalah untuk menolak ilmu hitam, menangkal maling serta untuk kekebalan ( tubuh anti senjata tajam bahkan peluru).

9. Les Kelor
            Benda ini berasal dari tumbuhan kelor yang umurnya sudah puluhan tahun. Les kelor ini akan bersinar menembus batangnya jika dilihat pada malam hari, terutama bagi yang berjodoh untuk memperolehnya. Besarnya kira-kira sebesar ibu jari orang dewasa. Adapun kegunaan dari benda ini adalah untuk menangkal ilmu pengiwa dan juga untuk menolak racun serta mengobati orang yang keracunan. Dengan meminumkan rendaman les kelor, niscaya orang yang keracunan akan segera sembuh.

10. Kepasilan Jepun/Benalu Kamboja
            Benda gaib ini jarang ditemukan, kecuali orang tersebut berjodoh dengan benda ini. Kepasilan jepun terdapat pada cabang pohon kamboja yang sudah berumur puluhan tahun, terutama yang memiliki kekuatan gaib tinggi pada tanaman kamboja Bali. Kegunaan dari benda ini adalah untuk menangkal pengaruh ilmu pengiwa/ilmu hitam, memberi ketenangan bagi pemiliknya dan dikasihi oleh orang banyak. Penulis pernah mengoleksi kepasilan jepun ini.

11. Dagingin Segara ( Nyuh Arungan, Uli selem, uli gadang, uli barak, kewawah, dll)
            Benda-benda itu bisa diperoleh jika kita bisa mengambilnya di dasar laut, yang kesemuanya dijaga oleh rencangan Ida Betara Baruna. Bagi yang berjodoh maka benda-benda tersebut akan muncul kepermukaan laut dan akhirnya sampai kepinggir laut dan akan mengeluarkan sinar bila ditemukan pada malam harinya. Kegunaan dari benda-benda ”Isining Segara” adalah untuk menangkal kekuatan ilmu pengiwa dan juga untuk usada (pengobatan).

12. Belatung Putih/Belatung Anoman
            Kaktus ini agak jarang ditemukan, kecuali bagi orang yang berjodoh. Ciri-ciri belatung Anoman ini adalah warnanya hijau keputihan dan berbentuk seperti gada. Kegunaan dari Belatung Anoman adalah untuk menangkal kekuatan ilmu pengiwa(ilmu hitam), memusnahkan kekuatan jahat ( maling, magic, dsb) yang memasuki pekarangan rumah orang yang memiliki belatung anoman ini. Juga sebagai ramuan untuk usada bebai. Kebetulan penulis mengoleksi tanaman ini.

13. Tunjang Langit
            Tanaman ini juga langka dan sulit untuk didapat. Kegunaannya adalah untuk menangkal kekuatan jahat yang masuk ke pekarangan rumah orang. Dan lebih bagus jika ditempatkan dihalaman rumah atau di dalam kamar tamu. Bagi orang yang jahat (membawa ilmu hitam, mau mencuri, dsb), maka sebelum niatnya kesampaian maka terlebih dahulu dia akan digempur oleh kekuatan gaib dari Tunjang Langit. Penulis juga mengoleksi tanaman ini.

14. Ong Tiing/Jamur Bambu
            Ong/jamur ini tumbuh di rumpun bambu yang lebat, tetapi jarang ditemukan kecuali berjodoh dengannya. Jamur ini berwarna hitam mengkilat yang besarnya setara dengan ”Ong Bulan”. Kegunaan dari ong tiing ini adalah untuk menangkal dan melindungi rumah serta penghuninya dari serangan ilmu pengiwa/hitam, sebagai campuran usada dan juga sebagai penangkal maling serta tuyul yang mau memasuki pekarangan rumah yang memiliki ong tiing ini. Dengan merendam ong tiing ini dengan air laut, air sungai dan air danau dan kemudian memercikkannya dilingkungan pekarangan dan tempat usaha/pedagangan niscaya pencuri dan bererong/tuyul tidak akan berani mendekat. Karena pancaran gaib yang ditimbulkan sangat dashyat dari rendaman air tersebut. Penulis kebetulan mengoleksi benda gaib ini.
15.  Les Dadap
            Benda ini berasal dari tumbuhan dadap, kalau masyarakat Bali sering menyebutnya Taru Sakti. Bila tumbuhan dadap/taru sakti tersebut berisi les, maka pada malam harinya, terutama pada hari-hari keramat bagi masyarakat Hindu Bali, yaitu ; Kajeng Kliwon, Tumpek, Tilem dan Purnama, maka tumbuhan tersebut akan mengeluarkan sinar berkilauan dan hal ini dapat dilihat oleh orang-orang yang berjodoh memilikinya. Besarnya les dadap ini tergantung dari Anugrah Dewata, yaitu bisa sebesar kepalan tangan anak kecil sampai kepalan orang dewasa. Biasanya les dadap ini memiliki tiga warna yaitu petak (putih), pita(kuning) dan coklat. Adapun kegunaan dari les dapdap ini adalah untuk penjaga pekarangan rumah beserta isinya dari serangan ilmu hitam dan juga sebagai pengasih wong kabeh, juga pengasih para Dewata. Tempatkan les ini ditempat yang bersih dan suci, kemudian aturkan canang burat wangi, lenga wangi setiap hari tilem dan purnama.

16. Les Gedebong
            Benda ini berasal dari tumbuhan pisang dari segala jenis. Les ini warnanya mirip dengan batang pohonnya, yaitu hijau kecoklatan. Bila pohon pisang berisi Les, maka akan bersinar pada waktu malam dan akan sulit untuk ditebang, kecuali sudah diberi restu oleh Dewata. Bagi orang yang berjodoh dengan benda ini, biasanya tanpa sengaja diberi wangsit pada saat menebang pohon pisang tersebut. Wangsit/cirinya yaitu pada saat menebang pohon pisang maka alat yang digunakan untuk menebang ( pisau, blakas, sabit, dsb) akan terpental, tidak mampu melukai pohon pisang tersebut. Maka segeralah membuat sesajen pejati lengkap dengan segehannya, untuk memohon kepada Dewata agar diberikan nunas les gedebong tersebut. Niscaya setelah memohon ijin maka pisang tersebut akan mudah dipotong dan didalamnya akan ditemui benda gaib les gedebong. Adapun kegunaan dari les gedebong ini adalah untuk membuat diri kebal dari segala jenis senjata ( keris, pisau, tombak, pistol, dsb). Disamping juga untuk penyengker pekarangan rumah dari serangan ilmu gaib, dengan cara merendam les gedebong dengan air laut, kemudian dipercikkan dilingkungan pekarangan rumah.

17. Les Jepun
            Benda ini berasal dari tanaman kamboja bali yang tumbuhnya ditempat-tempat suci maupun ditempat-tempat angker yang dihuni oleh makhluk-makhluk halus. Bila berjodoh dengan benda ini, maka pada malam harinya akan melihat sinar kemerahan pada pohon kamboja tersebut. Bagi anda yang melihat sinar itu, maka jangan tergesa-gesa untuk menebang pohon kamboja tersebut. Carilah hari baik yaitu Tilem atau Purnama, dengan menghaturkan sesajen Pejati dengan segehannya. Setelah memohon ijin pada malam harinya, niscaya pohon kamboja tersebut akan mudah ditebang, dan didalamnya akan dijumpai les jepun, yang besarnya tergantung anugrah Dewata.  Biasanya warna les jepun ada dua macam yaitu petak (putih) dan ireng (hitam). Kegunaan dari benda ini adalah untuk memuja Dewata ( cocok untuk pemangku, balian dan sulinggih), sehingga segala keinginan- nya akan cepat tercapai. Disamping itu juga untuk pengasih wong kabeh (manusia) sehingga dijauhi dari segala permusuhan dan juga untuk kelancaran rezeki ( cocok untuk pedagang, pengusaha ).
18. Penyalin Sapta Petala Wisesa
            Penyalin/rotan ini memiliki ciri-ciri, yaitu ujungnya tertancap ke pertiwi (tanah). Bagi orang yang berjodoh menemukan benda ini, maka sebelum memotongnya, diusahakan memohon ijin dengan mengaturkan banten pejati dengan segehan manca warna. Setelah memohon ijin maka pohon rotan yang ujungnya menancap kepertiwi dan tumbuh lagi seperti tunas, itulah yang dipotong, jangan pohon rotan yang lainnya. Kegunaan dari benda ini adalah untuk menolak serangan ilmu hitam, maling, tuyul dan melindungi/menjaga seisi rumah dari segala jenis perbuatan jahat yang dilarang oleh ajaran Agama. Bila dipakai sebagai tongkat dan dibawa dimalam hari, maka semua makhluk halus dan seananing leyak akan menjauh karena takut dengan pancaran gaib dari benda ini.

19. Tiing Jagasatru
            Tiing/bambu ini memiliki ciri-ciri yaitu ruasnya terbalik satu ke bawah ( bukun ipun mebalik asiki marep tuun) tidak seperti pada umumnya bambu yang lasim, yaitu ruasnya semua keatas. Bagi orang yang berjodoh dengan benda ini, maka pada malam harinya dia akan melihat sinar berkilauan disebatang pohon bambu tersebut. Untuk mendapat- kannya harus mohon ijin dengan menghaturkan banten pejati dan segehan manca warna. Niscaya tiing jagasatru akan terlihat dan dengan mudah untuk ditebang. Kegunaan dari benda ini adalah untuk menolak serangan ilmu hitam, pencuri, tuyul dan serangan dari makhluk halus (jin, wong samar, memedi, tonya, dsb) dan juga untuk mengalahkan karang angker.

20. Mirah Delima
            Benda ini berasal dari buah delima yang besarnya sama dengan bijinya. Rupanya mirip dengan biji buah delima. Warnanya ada yang kemerah-merahan, ada juga yang berwarna merah semu putih. Untuk menguji keaslian dari benda ini, maka masukkanlah ke dalam gelas yang berisi air bening, maka air akan berwarna merah. Kegunaan dari benda ini adalah untuk usada (pengobatan) sakit bikinan ilmu hitam ( bebai, buduh, dsb) dengan cara memberi minum air rendaman mirah delima, niscaya dengan anugrah Dewata sakitnya akan sembuh. Disamping itu juga untuk menjaga keselamatan diri, kewibawaan (cocok bagi pejabat) dan ketenangan pikiran ( cocok bagi rohaniawan dan penekun spiritual).

21. Minyak Buda Kecapi
            Minyak ini berasal dari buah pohon kelapa langka dan angker, yaitu pohonnya bercabang tiga, lima, tujuh ataupun sembilan. Sebelum mengambil buah kelapa dari pohon kelapa yang bercabang, terlebih dahulu memohon ijin dengan menghaturkan banten pejati dan segehan. Setelah itu baru mengambil buah kelapa dari masing-masing cabangnya. Untuk menjadikan minyaknya memiliki kekuatan gaib, maka buah kelapa tersebut diolah pada hari Purnama dan setelah diperoleh minyaknya kemudian dimohonkan pasupati. Kegunaan minyak kelapa ini adalah untuk ramuan dari usada, memperlancar rezeki (pedagang, pengusaha makanan dan minuman ), memperlancar jodoh, keharmonisan berumah tangga, dikagumi dan dicintai oleh banyak orang. Penulis mengoleksi minyak gaib ini.

22. Sampat Rudra Murti
            Benda ini kelihatan sederhana, tetapi memiliki kekuatan gaib yang dashyat. Jarang orang yang memper- hatikan dan menggunakan benda ini.Benda ini terbuat dari lidi/urat batang daun aren. Buatlah lidi/urat daun aren tersebut sebagai sapu khusus, dan diikat dengan benang tridatu (putih, merah dan hitam). Caranya dengan mengambil  daun aren pada hari Kajeng Kliwon Uwudan, pada pohonnya dengan menghaturkan canang atau banten pejati, dimohonkan kepada Dewa penguasa tumbuhan, kemudian diambil semua lidi/urat daunnya dan dibentuk menjadi sapu. Kemudian dimohonkan pasupati kepada Dewa Siwa, yaitu pada hari Purnama. Kegunaannya adalah untuk menjaga bayi yang baru terlahir sampai umur 1 oton, dari gangguan ilmu hitam, menghindari serangan/gangguan binatang ( tikus, ular, kelabang, kalajengking, dsb) dan jika dipakai memukul orang yang menguasai ilmu hitam, niscaya ilmunya akan hilang musnah dan orang tersebut akan menderita lahir bathin, hal ini dilakukan jika anda diganggu dan diserang oleh orang berilmu hitam. Bisa dibawa pada malam hari untuk menjaga diri dari serangan ilmu hitam dan juga makhluk halus. Buktikan sendiri !!!

23. Watuning Taru Kusuma
            Benda ini berasal dari getah tumbuh-tumbuhan yang sudah membatu dan mengkristal, sangat langka dan jarang ditemukan. Bagi orang yang berjodoh, maka benda ini akan ditemukan menempel di batang pohon-pohon angker, seperti pohon beringin, kepuh, pule, jati, nangka, majegau, cendana dsb.  Warnanya tidak terang dan juga ada berwarna kuning keemasan. Kegunaan- nya sebagai ramuan obat untuk penyakit kulit,  tenggorokan, perut, panas, muntah darah, dsb. Dan bisa dipakai sebagai permata cincin atau mata kalung, berguna untuk menjaga keselamatan dan melindungi diri dari serangan ilmu hitam.

24. Pompongan Boma Raksa
            Benda ini berasal dari buah kelapa yang digigit oleh tupai sampai berlubang. Lubang pada buah kelapa tersebut banyaknya dua. Benda gaib ini jarang ditemukan, kecuali orangnya berjodoh. Bersihkan isi dari pompongan tersebut dengan air laut ditambah pasirnya, sampai didalamnya betul-betul bersih tanpa ada sisa kotoran buah kelapa. Kemudian pada hari baik, yaitu tilem atau purnama, buatkan sesajen pejati dan segehannya dimohonkan kepada Betara Siwa kekuatan gaib sambil memasukkan 9 buah dupa menyala kedalam pompongan tersebut, untuk menyucikan dan memasukkan kekuatan gaib Betara Siwa. Setelah sesajen dihaturkan dengan hati suci dan permohonan yang tulus, kemudian pompongan tersebut digantung di rumah yang berhadapan dengan pemesu (jalan keluar rumah). Kegunaan benda ini adalah untuk melindungi seisi rumah dari serangan ilmu hitam, gangguan buta, kala bucari dan semua jenis makhluk halus tidak berani memasuki pekarangan rumah yang memiliki benda ini. Setiap hari-hari keramat, seperti kajeng kliwon, tumpek, tilem dan purnama menghaturkan canang burat wangi lenga wangi dan menghasapi benda ini dengan 9 buah dupa, niscaya kekuatan gaibnya akan terus menjaga seisi rumah.

25. Umbin Banah
            Benda gaib ini berasal dari umbi tumbuhan banah (sejenis tanaman umbi-umbian). Sangat jarang ditemukan, kecuali bagi orang yang berjodoh. Biasanya tumbuh di hutan-hutan lebat ataupun kawasan angker yang dihuni oleh makhluk-makhluk halus. Mungkin pembaca pernah mendengar cerita, bahwa babi hutan tidak mempan ditembak oleh senapan ataupun senjata mesin yang lain. Hal ini disebabkan karena babi hutan tersebut memakan umbin banah, sehingga tubuhnya kebal dari segala jenis senjata. Kegunaan dari benda gaib ini adalah untuk membuat seseorang kebal dari segala jenis senjata ( keris, tombak, pedang, bambu runcing, senapan mesin ) dan juga membuat kekuatan orang yang membawa benda ini berlipat-lipat, seperti kekuatan gajah.

26. Minyak Surya Akasa Wijaya
            Minyak ini berasal dari dalam buah kelapa yang masih utuh. Minyak ini sangat langka dan jarang ditemukan kecuali bagi orang yang berjodoh. Minyak kelapa tersebut sudah ada di dalam buahnya pada saat masih ada di pohonnya. Minyak gaib ini merupakan anugrah Dewa Surya. Bagi pembaca yang menemukan minyak ini, segera minyak tersebut ditempatkan pada sebuah botol, kemudian haturkan sesajen pejati dengan segehannya kepada Dewa Surya, memohonkan agar kekuatan gaibnya menyatu dengan orang yang menemukannya. Kegunaan dari minyak ini adalah untuk mengobati segala penyakit yang dibuat oleh ilmu hitam, menambah kewibawaan bagi pemakainya, pengasih wong kabeh, menyengker dan melindungi pekara- ngan rumah dari serangan ilmu hitam dan makhluk halus.


Merawat, Menjaga dan Membangkitkan kekuatan Benda-Benda Gaib
Bila pembaca yang budiman, memiliki salah satu benda-benda gaib diatas, hendaknya tetap dijaga dan dipelihara kekuatan gaibnya dengan cara sebagai berikut:
1) Melaksanakan Yadnya Pemendak dan Puja Pasupati. Setelah benda-benda gaib yang diperoleh, maka pembaca sepatutnya melakukan pemendak dan selanjutnya mengadakan Pemasupatian. Sesajen pemendak dapat berupa banten Pejati dengan segehan manca warna, sedangkan sesajen pemasupatian dapat berupa banten Peras Pejati mebe ayam mepanggang mebulu putih, tebasan durmanggala, bayuan, Prayascita, Klungah nyuh gading, segehan manca warna ( dapat disesuaikan dengan keadaan/dresta masing-masing daerah). Melakukan Pemendak dan Pemasupatian dapat dilakukan sendiri atau minta bantuan kepada para Spiritualis/Balian/Pemangku yang mendalami mengenai hal ini. Dengan melakukan kegiatan ritual diatas maka kekuatan gaib yang ada pada benda akan tetap terpelihara bahkan kekuatannya akan berlipat ganda sesuai dengan kegunaannya masing-masing. Bagi pembaca yang ingin melakukan pemasupatian sendiri, Penulis akan memberikan Puja Mantra Pasupati sbb :

Puja Mantra 1 : ” Om bayu sabda idep, hurip bayu, hurip sabda, hurip hidep, hurip serana, huriping hurip yanama swaha”
Puja Mantra 2 : ” Om Sanghyang Saraswati, tumurun sakeng surya candra, angurip pasupati maha sakti, angurip panugrahan maha sakti, angurip pangurip maha sakti, angurip sehananing daging buana kabeh, Sanghyang Saraswati turun sakeng surya, Dewi Saraswati turun sakeng candra, angurip tampaking bayunku, angurip saluiring rerajahan, angurip saluiring dagingin pertiwi wisesa, Om Brahma Wisnu Iswara, angurip saluiring karya, Sanghyang Sapa Mandi ring untu, Sanghyang Sarpa Naga ring lidah, Sanghyang Pasupati ring idepku, Om Pasupati petastra yanama swaha”.

2) Menghaturkan sesajen pada hari-hari keramat dan suci. Hari-hari keramat dan suci yang dimaksud adalah pada hari bertepatan dengan kajeng kliwon, tumpek, tilem, purnama, pujawali di Pura Dadya/Panti, pujawali Pura Kahyangan Desa.

3) Berbuat sesuai dengan Ajaran Agama, terutama ajaran Tri Kaya Parisuda. Bagi pembaca, yang ingin benda-benda gaibnya tetap dimiliki dan berguna sesuai dengan fungsinya maka sepatutnya melaksanakan ajaran Agama, karena kalau perbuatan kita bertentangan dengan ajaran Agama maka benda-benda gaib yang dimiliki akan hilang kekuatan gaibnya atau melecat (menghilang secara gaib), kembali ke alam asalnya.

Aji Tapak Sesontengan, Metode Penyembuhan Bali Kuno, Sembuh dengan Ucapan dan Niat yang Tulus

Juli 24, 2017

Di daftar warisan budaya leluhur Bali kuno, ada salah satunya metode penyembuhan yang dinamakan Tapak Sesontengan. Apa itu Tapak Sesontengan? Secara harfi ah, tapak berarti jejak dan sesontengan berarti ucapan yang diucapkan dengan niat yang tulus dan jujur. Komunikasi sederhana, esensi pada elemen-elemen kehidupan ini atas kuasa Sanghyang Urip.

Aji Tapak Sesontengan yang pada masa lampau sempat terhapus jejaknya sekian ratus tahun, kini kembali hadir untuk masyarakat. Bahkan sedang hadir dengan taksu yang besar dan kuat sehingga mudah dikuasai dan disebar untuk membantu kesehatan dan kesembuhan masyarakat luas.
Adalah para penekun yang tergabung di Tim Sukracarya yang kini tengah dalam misi untuk pengembalian Tapak Sesontengan ini sehingga kembali berguna bagi masyarakat luas. Atas kuasa dan taksu Sanghyang Urip Aji Tapak Sesontengan kembali “tertangkap” taksunya di Sukracarya lewat pengantar Master Jack Jero yang saat ini dalam misi penyebaran ke seluruh masyarakat Bali.
Metode ini dibuka kepada masyarakat luas diawali kegiatan di Tohpati, Denpasar. Dalam penyebarannya, Jack Jero, dibantu para anggota Tim Sukracarya di antaranya Dede Yasa, Bakti Wiyasa, Jro Gede Balian, Jro Mangku Ngurah, Batarayani Virgiania, Aniza Zanto, Yummi Miu, Budi Kukuh, Teddy Hartono, Anna, Siddiq, Erik Ronald, dan Bona.

“Banyak mendapat perhatian dari para penekun wisdom lokal Bali Kuno,” kata Bakti Wiyasa, salah seorang anggota Tim Sukracarya. Bakti Wiyasa lebih jauh menerangkan, Tapak Sesontengan adalah jejak komukasi pangurip-urip leluhur Bali Kuno yang sangat efektif untuk mengembalikan eksisnya seluruh daya hidup elemen di tubuh menjadi sehat seperti semula. Dengan di-urip kembali, daya tiap elemen-elemen seperti saraf, daging, darah, tulang, otot, kembali eksis seperti semula. Tekniknya dilakukan lewat getaran tepukan lembut saat masesontengan (komunikasi ) yang esensial dengan tepukan pada bagian badan yang sedang sakit menjadi segera sehat seperti semula atas kuasa Sang Hyang Urip.

Aji Tapak Sesontengan adalah pengetahuan usada (metode peyembuhan) masa Bayu Premana. Bayu Premana sebuah budaya Bali kuno yang dalam pengetahuan dan aplikasi penyembuhannya mengunakan daya, vibrasi, dan frekuensi tanpa menyakiti mahluk lainnya dalam meyembuhkan diri sendiri dan orang lain. Berbeda dengan Sato Premana, yaitu penyembuhan dengan mengunakan binatang (minyak ikan, telor, dll) maupun Taru Premana (dedaunan, akar, dll). Berbeda juga dengan Mirah Premana yang menggunakan berbagai bebatuan mineral seperti permata, giok, keris, dan palinggih dengan panca datunya sebagai dasarnya.

“Aji Tapak Sesontengan ini sangat ektif dan mudah dikuasai setiap orang, tanpa pantangan, tanpa mantra , tanpa meditasi, sangat sederhana dan sangat berguna untuk membantu keluarga, teman dan masyarakat di lingkungan sekitar,” jelas Bakti Wiyasa yang juga seorang perupa ini.
Metode ini akan sangat cepat meringankan bahkan menuntaskan segala gangguan-gangguan kesehatan hanya dalam hitungan kurang dari lima menit saja, khususnya untuk rasa nyeri. Misal gangguan-gangguan kesehatan seperti nyeri persendian, sakit pinggang, sakit gigi, migrain, saraf terjepit, sakit tengkuk, rematik. Selain itu, juga bisa menyembuhkan keluhan-keluhan lainnya seperti asam urat, vertigo, asma, bronchitis, dan lainnya.

Awalnya banyak yang tidak percaya dengan daya kesembuhan yang demikian cepat kurang dari lima menit apalagi cuman terlihat hanya ditepuk-tepuk saja. Tantangannya justru ada pada kepercayaan dalam daya penyembuhan cepat. “Rupanya kebiasaan yang berkembang di masyarakat untuk proses penyembuhan dan pemulihan kesehatan dalam metode rumit dan makan waktu lama telah demikian terbentuk. Berjumpa lagi dengan penyembuhan Bali Kuno yang sederhana dan seketika sembuh menjadi terlihat aneh dan malah dikira hipnotis dan psudo sience,” tuturnya.

Karena respon masyarakat yang cukup antusias, Tim Sukracarya kembali menggelar pengobatan gratis di Lapangan Puputan Badung. Salah seorang pasien, John, mengaku baru pertama kali mencoba pengobatan Tapak Sesontengan. Ia yang mengeluhkan sakit di bagian pundaknya, setelah beberapa menit diobati, mengaku langsung merasakan adanya perubahan. “Cuma ditepuk-tepuk begitu. Tapi, itu terasa perubahannya, tadinya sakit sekarang sudah hilang sakitnya. Sudah enakan rasanya,” ujarnya siang.

Sementara itu pasien lainnya, Putra, mengaku sengaja datang ke Lapangan Puputan Badung untuk mengonsultasikan tentang sakit kakinya akibat kecelakaan lima tahun lalu. Tak berselang lama salah seorang Tim Sukracarya langsung menangani. Secara rileks, bagian tubuhnya yang sakit ditepuk-tepuk. Berselang lima menit, ia pun merasakan perubahan yang signifi kan. “Sudah ringans ekali rasanya dibandingkan tadi. Tapi masih ada sakit di lutut, nanti saya ingin datang lagi,” ujar pemuda asal Gianyar itu.

Pengertian dan Makna Berjapa

Desember 17, 2016

JAPA = mengulang-ulang kata suci atau bertuah atau mantra. Mengulang tersebut dilakukan hanya dalam ingatan (mental) yang disebut manasika japa, dengan berbisik disebut upamsu japa, dengan bersuara yang terdengar maupun keras disebut wacika japa, dan ada juga dilakukan dengan gerakan atau tulisan/gambar.

MALA = rangkaian biji-bijian, batu, permata, mutiara, mute, merjan, spatika, atau butiran yang terbuat dari keramik, gelas, akar lalang, kayu, seperti kayu tulasi tulsi) dan cendana. Kata mala juga padanan kata tasbih dan rosary. Tasbih yang utama adalah tasbih yang terbuat dari rangkaian biji buah rudraksa.

RUDRAKSA= rudra berarti Siwa dan aksa berarti mata, sehingga arti keseluruhannya berarti mata Siwa, yang sejalan dengan mitologinya bahwa di suatu saat air mata Siwa menitik, kemudian tumbuh menjadi pohon rudraksa menyebar di Negeri Bharatawarsa dan sekitarnya, Malaysia bahkan sampai ke Bumi Nusantara, yang popular dengan nama GANITRI atau GENITRI. Dalam bahasa latinnya disebut ELAEOCARPUS GANITRUS. Ada tiga macam jenis ganitri dan 4 jenis agak berlainan yang dinamai KATULAMPA.

RUDRAKSA = adalah buah kesayangan Siwa dan dianggap tinggi kesuciannya. Oleh karena itu rudraksa dipercaya dapat membersihkan dosa dengan melihatnya, bersentuhan, maupun dengan memakainya sebagai sarana japa (Siva Purana). Sebagai sarana japa atau dapat dipakai oleh seluruh lapisan umat atau oleh ke-empat warna umat, maupun oleh pria atau wanita tua ataupun muda.

Selain pengaruh spiritual/religius tersebut, kepada pemakai rudraksa juga dapat memberikan efek biomedis dan bio-elektomagnetis (energi), secara umum dapat dikatakan dapat memberi efek kesehatan, kesegaran maupun kebugaran. Hal ini terungkap dari buku tentang penyhelidikan secara mendalam terhadap keistimewaan rudraksa tersebut di India.
Untuk mendapat daya-guna sampai maksimal, tentu harus memenuhi etika dan syarat, apalagi untuk memperoleh manfaat-manfaat khusus, berkenaan dengan sifat-sifat tertentu yang dimiliki rudraksa sesuai dengan bentuk, rupa serta jumlah mukhi (juringan)-nya. Secara umum dapat disebutkan bahwa rudraksa harus tidak dipakai/dibawa ke WC, melayat, turut kepemakaman/crematorium, dan tidak dalam keadaan cuntaka (sebel), maupun sebel pada diri wanita.

Sebelum dimanfaatkan sebaiknya tasbih genitri itu dipersembahkan di pura, kemudian dimohonkan keampuhannya denagan diperciki tirtha, yang berarti pemakaiannya melalui prosedur ritual. Hal itu ditempuh karena ber-japa dengan tasbih genitri bukan sekedar untuk menghitung-hitung, memakai rangkaian japa-mala rudraksa juga bukan sekedar asesori atau sebagai atribut status quo. Dengan ritual itu ingin dicapai kemantapan bathin yang berdimensi magis, dan memperlakukan japa-mala-rudraksa itu sebagai sarana sakral, di samping untuk kesehatan.

Yang dimaksud dengan etika berjapa, adalah termasuk hal-hal yang akan disebutkan berikut ini. Selama berjapa jagalah jangan sampai bagian bawah tangkainya terkulai begitu saja, apalagi sampai menyentuh tanah. Untuk itu perlu tangan kanan yang meniti butir genitri terangkat setinggi ulu hati dan bagian yang terjuntai ditadah dengan telapak tangan kiri. Ada juga dianjurkan, agar selama berjapa rangkaian rudraksa itu diperlakukan tertutup, bahkan diperlakukan dalam kantung khusus.

Melakukan japa dengan tasbih genitri sebaiknya dengan sikap bathin yang tenang, serta terpusatkan pada tujuan mantra, selagi ibu jari tangan kanan menggerakkan mala dibantu jari tengah dan satu persatu biji rudraksa itu akan melangkahi bagian ujung jari manis.
Jari telunjung maupun jari kelingking tidak diberikan tugas dan tidak menyentuh biji rudraksa.
Mala yang terdiri dari 108 biji rudraksa diuntai dengan benang katun/kapas, memiliki puncak yang diberi nama MERU . Rangkaian Japamala rudraksa ada juga diuntai dengan kawat, bahkan deberi berbagai variasi seperti emas, perak, tembaga, manik-manik yang berwarna-warni sesuai dengan “warna” pemakainya.

Melakukan japa mulai dari mala pertama di bawah Meru............. dan terus berakhir pada mala yang ke 108(terakhir). Kalau hendak melanjutkan lagi, maka mala yang terakhir tadi dianggap yang pertama digerakkan kembali (balik) arah, pantang melewati/menyebrangi Meru. Demikianlah berulang-ulang bolak-balik sampai mencapai jumlah yang dikehendaki.

MANTRA UNTUK BERJAPA
Kebiasaan berjapa dengan mala atau tasbih bagi umat Hindu di Indonesia nyaris tak dikenal, kecuali dikenal hanya dikalangan sulinggih yang memakainya sebagai pelengkap atribut dalam berpuja. Bahkan dikalangan beberapa generasi Hindu. Jika melihat umat agama lain sedang berjapa dengan mala/tasbih, tidak merasakan bahwa berjapa itu merupakan tradisi miliknya juga. Barulah pada penghujung abad XX ini, umat Hindu Indonesia melebarkan cakrawalanya terutama ke pusat kelahiran agama Hindu, dapat memungut kembali butir-butir Japa-mala yang sudah lama tercecer untuk dimanfaatkan kembali. Tidaklah berlebihan disebutkan di sini, bahwa kini sudah saatnya umat Hindu mengambil manfaat ber-japa dengan mala terutama yang terbuat dari rudraksa atau genitri.

MANTRA adalah kata suci atau bertuah yang dapat memberi pengaruh atau getaran yang bersifat magis, apabila disebutkan maupun dijapakan, baik secara ingatan (mansika), berbisik (upamsu), maupun dengan ucapan (wacika). Kata ataupun kata-kata bertuah itu antara lain:

BIJA AKSARA = Yang disebut juga BIJA MANTRA, adalah huruf,atau suku kata, ataupun unsur suku kata itu sendiri yang tak terpisahkan dari tuahnya yang bergetar abadi.

NAMA-NAMA TUHAN= Bukan Tuhannya yang banyak. Tuhan hanya satu, tiada duan-Nya, Melainkan Brahman para cendekia yang bijaksana menyebut dengan berbagai nama.

PUJA TAWA = yang juga memiliki “nilai” mantra.

MANTRA-MANTRA:
Dengan memperbandingkan Bija aksara yang kita sudah dikenal dari dulu di Indoenesia dengan Bija mantra yang tersebut dalam buku-buku terbitan India boleh jadi Bija aksara itu juga bisa dipakai untuk mantra-mantra dalam ber-japa- mala.Yang jelas adalah Pranawa OM, Ongkara itu sendiri sebagai Udgita, disamping yang lain-lain seperti: dwi aksara/rwa bhineda, tri aksara, panca aksara, dasa aksara, dasa aksara-bayu dan bija aksara lain yang menjadi pegangan para Husadawan. Ketidak tegasan ini tentu akibat dari pada “tidak” atau “belum” terbiasanya umat Hindu di Indonesia ber-japa-mala.

Tanpa bermaksud meremehkan diri, baiklah kita kutipkan beberapa mantra dari buku-buku terbitan India.

1. OM : Tuhan itu sendiri, merupakan sumber serta asal muasal yang ada, sehingga wajib kita mendekatkan diri kepadaNya, sembah sujud kepadaNYa dengan berserah diri sepenuhnya ....... dstnya.

2. KSHRAUM : bija mantra Narasimha (Narasinga) untuk mengusir, rasa takut dan cemas.

3. AIM (ENG) : bija mantra Saraswati, sebagai perkenan/restu bagi remaja putra-putri agar pandai dalam berbagai cabang pelajaran.

4. SHRI(SRI):bija mantra Dewi Laksmi (Laksmi), yang di Indonesia dikenal dengan nama Dewi Sri Mantra ini di-japa-kan seseorang untuk menuju kemakmuran dan kesenangan.

5. HRIM : bija mantra Bhuwana-ishwari, atau disebut juga mantra Maya.Kegunaannya diterangkan dalam Dewi Bhagwatma, bahwasanya seseorang bisa menjadi pemimpin dan mendapatkan seluruh yang diinginkan.

6. KLIM : bija mantra Raja Kama atau Dewa Kama untuk pemenuhan kemauan seseorang.

7. KRIM :Bija mantra Dewi Kali atau Durga untuk menghancurkan musuh dan memberikan kebahagiaan.

8. DUM : Bija mantra Durga, marupakan ibunya cosmos untuk mendapatkan perlindungan dari padaNya, serta memberikan apa saja yang diinginkan manusia.

9. GAM, GLAUM/GAM GLAUM : Bija mantra Ganesha untuk menyingkirkan rintangan serta mengembangkan sukses. Ga berarti Ganesha, La berarti sesuatu yang dapat meresap dan Au berarti cerdas atau daya pikir yang cemerlang.

10.LAM : Bija mantra Pertiwi (Pritvi), sebagai pertolongan yang menjamin hasil panen baik.

11.YAM : Bija mantra Bayu (Vayu), untuk mejamin hujan.
Masih banyak lagi bija mantra yang lain, terutama yang bersifat khusus, namun yang disajikan di atas sudah memadai, apalagi ditambah nama-nama Tuhan beserta ista dewata, awatara, maupun puja stawa, antara lain:

OM SRI MAHA GANAPATAYE NAMAH; OM NAMAH SIWAYA; OM NAMO NARAYANAYA; HARI OM; HARI OM TAT SAT; OM SRI HANUMAN NAMAH; OM SRI SARASWATYE NAMAH (OM SRI SARASWATYAI NAMAH) ; OM SRI DURGAYAI NAMAH; OM SRI LAKSHMYAI NAMAH; OM SO HAM; OM AHAM BRAHMANASMI; OM TAT TWAM ASI; OM HARE RAMA HARE RAMA RAMA RAMA HARE HARE; HARE KRISHNA HARE KRISHNA KRISHNA KRISHNA HARE HARE; OM SRI RAMA; JAYA RAMA; JAYA JAYA RAMA.

Puja Gayatri atau Sawitri juga dapat di-japa-kan dengan sangat populer dan mahautama.

Demikian juga Mahamertyunjaya.
MANTRA MAHA-MRITYUNJAYA
OM TRYAMBAKAM YAJAMAHE SUGANDHIM PUSHTIVARDHANAM;URVAARUKAMIVA BANDHANAAN MRITYORMUKSHEEYA MAAMRITAAT.

Penjelasan:
Mantra Maha-Mertyunjaya (Mrityunjaya) adalah mantra untuk pang-hurip-an (anuggrah jiwa-kehidupan). Pada saat-saat kehidupan sangat komplek dewasa ini, kecelakaan karena gigitan ular, sambar petir, kecelakaan kendaraan ber-motor/sepeda, kebakaran, kecelakaan di air dan udara dan lain-lainnya.

Disamping itu, mantra tersebut mempunyai daya perlindungan yang besar, penyakit-penyakit yang dinyatakan tak tertangani secara medis (dokter), dapat diobati dengan mantra ini, apabila mantra di-uncar-kan (disebutkan secara manasika, upamsu maupun vacika) dengan sungguh-sungguh, jujur dan taat. Mantra tersebut merupakan senjata melawan penyakit-penyakit serta menaklukan kematian. Mantra Mrityunjaya adalah juga mantra- moksha, mantra-Nya Siwa. Selain memberi berkah mohksha, mantra itu juga memberi berkah kesehatan (Arogya), panjang umur (Dirgha Yusa), kedamaian (shanty), kekayaan (Aiswarya), kemakmuran (Pushti), dan memuaskan (Tushti)
Pada saat ulang tahun mantra ini di-japa-kan sebanyak 100 ribu kali atau paling tidak 50.000 kali, haturkan makanan kepada orang-orang miskin dan orang sakit, akan mendapat berkah seperti tersebut di atas.