Loading...
Tampilkan postingan dengan label CULTURE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CULTURE. Tampilkan semua postingan

Menyibak Rahasia Asal Usul Keberadaan Ular Suci Di Pura Tanah Lot

Add Comment

Tanah Lot tidak hanya dikenal dengan Pura Luhur Tanah Lot yang berada tepat di atas karang di tengah laut yang membuat para wisatawan lokal dan mancanegara terpukau. Namun juga terkenal dengan ular sucinya. Maka tak heran jika para wisatawan yang datang tidak hanya menikmati pemandangan namun juga melihat langsung keberadaan ular suci tersebut.

Bagi masyarakat Pulau Dewata, ular yang ada di Pura Luhur Tanah Lot ini sudah tidak asing lagi. Ular dengan warna belang hitam-putih atau poleng tersebut dipercayai sebagai ular suci yang menjaga Pura Luhur Tanah Lot dan biasa disebut Duwe.

Keberadaan ular suci itu sendiri dapat disaksikan oleh para wisatawan dengan hanya mengaturkan dana punia sukarela di sebuah goa yang tentunya dijaga oleh seorang pawang ular.

Di dalam goa bertuliskan “Ular Suci/Holy Snake” tersebut siapa pun dapat menyaksikan bahkan menyentuh ular suci jenis ular laut berekor pipih dengan nama ilmiah bungarus candidus tersebut. bungarus candidus sendiri merupakan sejenis ular berbisa dari suku elapidae dan merupakan salah satu ular paling berbisa di dunia. “Menurut cerita dari zaman dulu, bisa atau racun dari ular suci itu sangat mematikan,” ungkap terang Jero Mangku Wati, Pemangku di Pura Luhur Tanah Lot.

Meskipun memiliki bisa mematikan, hingga saat ini Mangku Wati mengatakan jika tidak pernah ada orang yang digigit entah itu dari pawang ataupun wisatawan. Karena memang ular suci tersebut tidak akan menggigit selama dirinya merasa aman dan nyaman. “Yang saya tahu dan saya dengar selama ini, hingga detik ini tidak pernah ada orang yang digigit oleh ular suci itu, meskipun katanya ular itu sangat berbisa. Siapa pun yang digigit akan menemui ajalnya dengan sekejap,” imbuhnya.

Keyakinan bahwa bisa atau racun ular sui tersebut sangat mematikan dikuatkan dengan sebuah cerita dari para leluhurnya terdahulu. Konon dulu ular suci pernah bertarung dengan seekor musang. Musang tersebut kemudian digigit oleh ular suci dan dalam beberapa saat musang itu pun melepuh. Ditambahkan lagi, karena tidak pernah menggigit orang maka tidak ada seorang pun yang tahu apa obat penawar jika tergigit oleh ular suci tersebut.


Ular suci yang ada di Pura Luhur Tanah Lot itu dijelaskan bahwa ada dua warna, satu berwarna poleng (hitam-putih) dan satu lagi berwarna abu-abu kehitaman. “Kebanyakan yang berwarna poleng, tetapi kadang-kadang muncul yang berwarna belang abu-abu kebiruan itu. Katanya itu bisanya lebih mematikan lagi,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Jero Mangku Wati menceritakan jika menurut kepercayaan dan cerita Agama, ular suci tersebut merupakan jelmaan dari selendang milik Dang Hyang Nirartha ketika menginjakkan kaki di Pantai Tanah Lot.

“Ketika Dang Hyang Nirartha tiba di Pantai Tanah Lot sekitar abad ke-14 Beliau mendirikan pasraman dan bersemedi. Nah ketika itu agar tidak ada gangguan, Beliau kemudian merobek kain poleng yang Beliau gunakan seukuran selendang. Dan selendang itulah berubah menjadi ular suci yang hingga saat ini dipercayai adalah sebagai penjaga Pura Luhur Tanah Lot,” terang Mangku Wati.

Terlebih lagi Mangku Wati menuturkan jika sebelum tahun 1960-an, ular suci di Pura Luhur Tanah Lot berjumlah ratusan. Bahkan ketika pujawali ular-ular tersebut akan meliuk-liuk di Pura Luhur Tanah Lot dengan bebas. “Ular-ular itu akan berkeliaran bebas, dan mereka sangat jinak. Jadi orang yang bersembahyang juga tidak takut karena kalau kita tidak mengganggu ular itu maka ular itu juga tidak akan mengganggu kita. Jadi kita bisa berdampingan,” ujar Mangku Wati lagi.

Namun setelah pariwisata semakin pesat, perlahan keberadaan ular suci itu berkurang. Bahkan kini sudah sangat sulit untuk menemukan ular suci berkeliaran seperti dahulu kala. Dan tak jarang Mangku Wati melihat ada ular suci yang meregang nyawa. “Terakhir saya lihat ada ular suci yang mati lemas di pagar Pura,” tuturnya.

Berkurangnya populasi ular suci di Pura Luhur Tanah Lot diyakini karena eksploitasi terhadap ular suci yang dimanfaatkan untuk bisnis. “Dulu ular banyak dan gampang untuk dipertontonkan kepada pengunjung. Sekarang sudah sedikit jadi ular suci dicari-cari untuk dapat diperlihatkan kepada pengunjung,” ungkap sumber yang enggan dikorankan namanya tersebut.

Kata dia, kesucian ular tersebut telah terkikis oleh kepentingan bisnis sehingga kini populasi ular berkurang. Hal ini tentu saja menjadi pro dan kontra. “Tidak tahu nanti kalau ular suci benar-benar sudah tidak ada lagi. Jadi serba salah di sini, soalnya semua sama-sama cari makan,” pungkas sumber.

Inilah Penjelasan Kenapa Usai Mewinten Dilarang Makan Daging Suku Empat

Add Comment

Ada sejumlah pantangan untuk orang yang telah Mawinten. Salah satunya adalah pantang makan daging berkaki empat.

Welaka Ida Bagus Gede Suragatana mengatakan, pantangan seseorang yang selesai Mawinten sesuai kemampuannya. Selain itu, niat dari seseorang yang melaksanakan Pawintenan tersebut. “Kalau saya tidak boleh makan daging suku empat, tidak boleh makan dari upacara Pangabenan. Tetapi semua itu tergantung dari niat. Jika itu dilanggar maka akan sangat gampang sakit,” tutur pria yang akrab disapa Gus Suragatana ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya Desa Kelusa, Kecamatan Payangan, Gianyat, pekan kemarin.

Gus Suragatana mengaku saat Pawintenan berjanji menjadi walaka yang menjaga astika asti, yakni arah utara, selatan, timur, dan barat. Sehingga, ketika makan daging suku empat dirinya akan tidak tahu arah. Tetapi, jika makan tidak disengaja, lanjutnya, bisa nunas pangampura (mohon maaf) dengan upakara Prayascita.

“Yang menentukan itu semua adalah janji dan pikiran sendiri. Prayascita itu dilaksanakan dengan syarat pantangan tersebut dilanggar dengan tidak disengaja. Bila sengaja dilanggar, maka upacara tersebut tidak ada gunanya,” imbuhnya.

Gus Suragatana menambahkan, bahan yang digunakan untuk merajah saat Pawintenan berupa sirih dan madu. Di mana di antara kedua kening dirajah dengan aksara suci Yang, di dada dengan aksara suci Dang, kedua bahu dengan aksara suci Bang, di tunggir dengan aksara Sang, di telapak tangan dengan aksara Tang, di tengah lidah dengan aksara Ing, dan pada ujung lidah dengan aksara Ong.

Gus Suragatana menjelaskan, beberapa sarana upakara yang digunakan untuk mawinten, supaya rentetan prosesi Pawintenan berjalan lancar tanpa halangan apapun. “Pertama harus melakukan prayascita sebagai pembersihan, banten durmanggala, banten pangulapan, pangenteb bayu, banten atma rauh, pangenteb hati. Tetapi paling awal harus melakukan natab biyukawonan,” jelasnya.

Setelah melakukan biyukawoanan, baru dilaksanakan majaya-jaya yang harus dipuput oleh sulinggih. Selanjutnya menghaturkan banten kehadapan sasuhunan yang malinggih di merajan. Setelah itu, baru melaksanakan natab Pawintenan. “Banten setelah dihaturkan di merajan ditunas dan ditatab saat Mawinten. Di sana ada yang disebut dengan tebasan guru, baru dirajah badannya,” tandasnya.

Setalah pelaksanaan Pawintenan ada upacara Padambelan yang menggunakan bebek dan ayam. “Ayam menyimbolkan bhuta dan bebek menetralisasikan leteh sebelum diwinten. Rentetan upcara tersebut dilaksanakan sesuai Pawintenan apa yang dibutuhkan saat itu,”pungkasnya.

Inilah Artinya Kenapa Sepulang Dari Bepergian Disarankan Masuk Dapur Atau Paon Dulu ?

Add Comment

Dapur dalam bahasa Bali disebut Paon atau Puwaregan ini, tak hanya menjadi tempat memasak. Namun, punya fungsi khusus menurut keyakinan Hindu.

Di Bali, dapur memiliki beberapa nama, yakni Pawaregan, Peratengan, dan Paon. Ketiga sebutan tersebut sangat lazim didengar telingan masyarakat Bali. Kata Pawaregan berasal dari kata wareg yang berarti kenyang (tidak lapar). Agar mampu terhindar dari rasa lapar, maka manusia harus makan, dan tempatnya adalah di dapur. Selanjutnya adalah Peratengan yang berasal dari kata matang yang artinya masak.

“Seperti diketahui bahwa aktivitas memasak untuk membuat olahan menjadi matang adalah di dapur,” ujar Budayawan Denpasar I Gede Anom Ranuara.

Lebih lanjut kata Anom, khusus untuk kata Paon adalah sebuah istilah yang paling sering didengar. Kata ini sesungguhnya berasal dari istilah Pa Abuan yang artinya tempat abu. Tentu dengan demikian sangat mengena dengan konsep memasak masyarakat Bali zaman dahulu. Di mana sebagian besar menggunakan bungut paon atau tempat memasak yang berasal dari batu bata atau tanah liat. Di bungut paon inilah nanti abu sisa pembakaran kayu bakar akan terkumpul, sehingga dikenal dengan sebutan paon.

Selain dikenal sebagai tempat untuk memasak, dapur di Bali memiliki banyak makna, baik untuk upacara agama maupun sebagai tempat penyucian diri. Hal tersebut dikaitkan dengan Dapur sebagai Stana Dewa Brahma. “Jadi, untuk memohon panglukatan kepada Dewa Brahma, masyarakat diharapkan memohon di pelangkiran dapur,” ujarnya.

Dalam lontar Wariga Krimping disebutkan bahwa, Dewi Saraswati yang merupakan sakti dari Dewa Brahma sebagai dewa yang memberikan penyucian diri. Ketika seseorang mengalami sebel atau cuntaka setelah melakukan upacara Pitra Yajna, dapat memohon panglukatan kepada Dewa Brahma di pelangkiran dapur.

Selain itu, dalam lontar Dharma Kahuripan dan lontar Puja Kalapati, dijelaskan bahwa bahwa tahapan upacara matatah disebutkan, dalam rangka magumi padangan, upacara ini juga di sebut masakapan kepawon dan dilaksanakan di dapur.

Dalam pertamanan tradisional Bali berlandaskan unsur satyam, siwam, sundaram, religi dan usada, juga disebutkan bahwa tanaman untuk keperluan dapur dan tanaman obat-obatan untuk keluarga (toga) biasanya ditanam di dekat dapur. Pohon kelor (Moringaoleivera L) sebagai penangkal dan menghancurkan kekuatan negatif. Tanaman buah-buahan sebaiknya ditanam di areal ‘teba’ (tegalan) dekat dapur atau di bagian luar natah lainnya.

Selain sebagai tempat memasak atau pun tempat makan, ternyata dapur juga menetralisasi ilmu hitam atau pun butha kala yang mengikuti sampai ke rumah. Pernyataan tersebut tertuang dalam Lontar Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi.

Oleh karena itu, anggota keluarga yang berpergian hendaknya mengunjungi dapur terlebih dahulu, sebelum ke bangunan utama rumah ketika sudah pulang atau datang dari luar.

Tak jarang di Bali muncul mitos bila penghuninya tidak ke dapur terlebih dahulu, ketika sampai di rumah, maka bhuta kala atau segala ilmu hitam mengikutinya sampai di dalam kamar. “Sampai akhirnya penghuni rumah tersebut mengalami perasaan tidak tenang (seperti dihantui) dan tiba-tiba jatuh sakit tanpa sebab yan pasti,” tuturnya.

Hal tersebut menandakan bahwa jalanan juga dilalui oleh mahluk niskala (gaib). Namun, pada dasarnya manusia tidak semuanya dapat melihat mahluk gaib tersebut, karena hanya orang-orang tertentu yang memiliki indera keenam yang dapat melihatnya. Tidak jarang juga mahluk gaib itu mengikuti manusia ketika dalam perjalanan sampai ke rumah , sehingga perlu adanya upaya untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Selain itu, beberapa upacara Yadnya di Bali sangat berkaitan erat dengan Puwaregan atau dapur, seperti Ngalukat Bobotan untuk melenyapkan atau melebur segala noda kotoran (leteh) suatu kandungan. Juga ritual Pangelepas Awon untuk bayi berumur 12 tahun. “Dengan banten pacolongan untuk upacara kambuhan untuk membebaskan dari pengaruh-pengaruh negatif tri mala.” katanya.

Inilah Makna Dari Suara Tetimpug Saat Upacara Pawiwahan

Add Comment

Dalam rangkaian upacara Pawiwahan (Pernikahan) adat Hindu, ada tiga buah bambu yang dibakar hingga meletup yang disebut Tetimpugan. Sejatinya, apa makna dan fungsi Tetimpugan?

Pernikahan merupakan saat – saat yang paling dinanti. Fase Grahasta dalam ajaran Catur Asrama ini haruslah dilaksanakan sesuai tata cara yang benar. Itulah sebabnya, upacara Madengen-dengen atau Makala-kalaan yang memiliki makna dan tujuan ‘membersihkan dan menyucikan’ merupakan bagian terpenting dalam rangkaian upacara pernikahan adat Bali. Dalam rangkaian upacara Pawiwahan terdapat tiga buah bambu yang dibakar dan meletup yang disebut Tetimpugan.

Tetimpug merupakan sarana yang juga dipergunakan dalam upacara Makala-kalaan.

Pemangku asal Desa Keramas, Jero Mangku Made Puspa, mengatakan, Tetimpugan erat kaitannya dengan Bhatara Brahma yang disimbolkan sebagai api. “Sarana yang digunakan untuk memohon penyupatan dari Sang Hyang Brahma dalam upacara yadnya umumnya disimbolkan dengan bambu tiga batang yang dibakar dengan api danyuh kelapa,” ujar Mangku Made Puspa.

Dikatakannya, Tetimpug umumnya berupa tiga buah bumbu mentah yang masih ada kedua ruasnya. Lalu diberi minyak kelapa kemudian diberi sasap yang terbuat dari janur. Biasanya bambu ini, akan dibakar sebelum memulai upacara, sehingga terdengar bunyi letusan tiga kali.

“Di Gianyar, dalam rangkaian upacara Pawiwahan, membunyikan Tetimpugan justru merupakan saat yang ditunggu – tunggu. Konon, katanya jika Tetimpugan itu berbunyi lebih dari tiga kali, maka pasangan tersebut akan dikaruniai banyak anak. Jika kurang dari tiga kali letupan, kami khawatir mungkin ada kekurangan dalam bantennya,” ujar Jero Mangku Made Puspa.

Dalam upacara Bykala (wiwaha), lanjutnya, sudah terkandung tiga macam saksi yang dikenal dengan istilah Tri Upasaksi (tiga saksi), yaitu Dewa Saksi, Manusa Saksi, dan Bhuta Saksi. Dewa Saksi adalah saksi Dewa ( Ida Hyang Widhi Wasa) yang dimohonkan untuk menyaksikan Pawiwahan tersebut. Manusa Saksi adalah semua orang yang datang menghadiri Pawiwahan tersebut dapat dikatakan sebagai saksi, utamanya Bendesa, Kelian Dinas, pemangku yang muput upacara tersebut dan lainnya. Saksi dari para Bhutakala disebut dengan Bhuta Saksi.

Tetimpugan dikatakan sebagai rangkaian dari Bhuta Saksi. “Kita membakar Tetimpug, sehingga menimbulkan suara letupan. Suara letupan tersebut merupakan simbol untuk memanggil Bhutakala agar hadir pada upacara tersebut. Kemudian diberikan suguhan supaya tidak menggangu jalannya upacara,” ungkap Jero Mangku Made Puspa.

Ditegaskannya, perkawinan di Bali dianggap belum sah, jika tidak disaksikan oleh Tri Upasaksi.

Dalam Wiwaha Samsara, Tri Upasaksi adalah tiga saksi yang dihadirkan untuk menyaksikan rangkaian upacara Pawiwahan, yaitu Dewa Saksi, Manusia Saksi, dan Bhuta Saksi.

Dewa saksi biasanya dalam bentuk upakara dan bebantenan. “Dewa saksi, meliputi upakara dan upacara perkawinan kedua mempelai, yang dipuput oleh pedanda,” ujarnya. Sedangkan Manusia Saksi umumnya diwakilkan oleh bendesa adat serta prajuru desa. “Bhuta Saksi biasanya disimbolkan dengan upacara yang dibuatkan untuk kedua mempelai, sebagai wujud menetralisasi Sapta Timira,” tandasnya.

Ditambahkannya, dalam Wiwaha Samskara disebutkan, Tetimpug berfungsi sebagai alat komunikasi, baik niskala maupun sakala. Secara niskala, Tetimpug berfungsi untuk memberitahukan Bhutakala yang akan mendapat persembahan, bahwa upacara Makala-kalaan segera dimulai. Secara sekala, Tetimpug juga mempunyai fungsi untuk memberitahukan kepada warga sekitar bahwa upacara Makala-kalaan segera dimulai.

Tetimpug tidak hanya digunakan dalam upacara pernikahan, tetapi juga digunakan dalam rangkaian upacara lain, seperti Padudusan, Pacaruan Rsi Gana, Labuh Gentuh, dan pacaruan lainnya. “Tetimpugan itu fungsinya sangat vital. Bahkan, dalam berbagai kegiatan upakara, Tetimpugan sering digunakan. Ngodalin, Macaru pasti ada Tetimpug,” ungkapnya.

Pemangku Pura Masceti ini mengungkapkan, baiknya menggunakan bambu dengan jumlah ganjil. “Seharusnya berjumlah ganjil, di mana ruas bambu yang berjumlah ganjil juga. Tiga buah bambu Tetimpug melambangkan Tri Kona, yaitu utpeti, stiti, dan pralina,” terangnya. Jika yang menggunakan lima buah Tetimpug, upacara caru tersebut sudah berada dalam tingkatan yang lebih besar, seperti karya agung. Hal tersebut melambangkan Panca Mahabhuta, yaitu pertiwi, apah, teja, bayu, dan akasa.

Diakuinya, penjelasan Tetimpug seringkali berbeda – beda, sesuai desa kala patranya. “Jika di daerah Ubud, Tetimpug dikatakan sebagai sarana untuk mengundang kekuatan sebagai pelaksana sebuah upacara yadnya,” paparnya.

Konon, tetimpug menjadi sarana pengundang tenaga dan waktu agar harmonis. “Jika Tetimpug tidak bersuara, maka kala itu tidak datang. Begitu juga sebaliknya, jika bersuara, kala itu datang dan merasa terpanggil,” tandasnya.

Inilah Makna Dua Patung Penjaga Gapura Atau Pintu Gerbang Yang Ada di Bali

Add Comment

Jika hendak masuk ke tempat suci di Bali, tak jarang dua patung berwujud seram menyambut di sebelah kanan dan kiri pintu gerbang. Dua patung ini umumnya memiliki ekspresi yang unik, yakni mata melotot, taring panjang dan tajam, namun dibarengi senyum tipis. Dan, salah satu lengannya memegang senjata berupa gada. Siapakah sebenarnya sosok makhluk ini?

Masyarakat Hindu di Bali tidak asing dengan keberadaan dua patung ini. Mereka berdua disebut Dwarapala, yakni sosok penjaga pintu gerbang. Ekspresinya yang seram menyimpan kesan ketegasan dan peringatan bagi siapa pun agar tidak sembarangan masuk ke tempat yang dimaksud. Namun demikian, senyumnya tetap menyiratkan keramahan.

Masing-masing dari patung ini bernama Nandiswara yang terletak di sebelah kanan (kiri pintu gerbang) dan Mahakala yang terletak di sebelah kiri (kanan pintu gerbang). Keberadaan keduanya dikaitkan dengan kekuatan Dewa Siwa sebagai salah satu manifestasi Tuhan dalam Agama Hindu.

Berdasarkan pustaka Uttara Kandha, diceritakan ketika Dewa Indra bertapa di gunung Kailasa bersama para dewa lainnya, datanglah Rahwana untuk mengganggu. Dengan kehebatannya, Rahwana mengangkat Gunung Kailasa sehingga tapa para dewa menjadi gagal.

Saat yang sama, di gunung tersebut ada manusia dengan kepala seperti kera bernama Nandiswara. Nandiswara kemudian menekan gunung sehingga Rahwana terjepit dan kesakitan. Nandiswara bersedia mengampuni Rahwana, asal bersumpah kelak dirinya dikalahkan prajurit berkepala kera.

Berkenaan dengan itu, Dewa Indra berpesan, jika ingin mendapat kesucian, agar mendirikan Candi Kurung atau Kori Agung pada pintu masuk tempat suci dan pekarangan. Candi kurung atau kori agung adalah lambang Gunung Kailasa. Sementara Nandiswara diberikan pesan agar selalu menjaga orang-orang yang mencari kesucian, dengan wujud Dwarapala. Untuk mendampinginya, diwujudkanlah Mahakala.

Keberadaan sosok Dwarapala tidak hanya di Pulau Dewata, namun juga di tempat lain, yang dulunya merupakan pusat-pusat perkembangan ajaran Siwa-Buddha juga terdapat patung ini. Pulau Jawa misalnya. Tidak jarang ditemukan patung Dwarapala pada situs-situs peninggalan kerajaan yang menganut ajaran Siwa-Buddha pada masanya. Bahkan di Singasari, Malang, Jawa Timur, ditemukan pula patung Dwarapala dengan tinggi sekitar 3,7 meter. Selain itu, patung sejenis juga ditemukan di Keraton Yogyakarta, Kamboja, hingga Thailand. Meski sudah berusia ratusan tahun, namun patung-patung tersebut tetap berdiri kokoh.

Kembali ke Patung Dwarapala di Bali, pada hari suci tertentu, umat Hindu menghaturkan sesajen di depannya sebagai ucapan terima kasih kepada sosok penjaga tersebut. Meski terkadang tidak ada patungnya, namun masyarakat Bali biasanya menyediakan kolong di bagian depan sebelah kanan dan kiri gerbang untuk meletakkan sesajen bagi Sang Nandiswara dan Mahakala.

Sementara pada Lontar Widhi Tattwa dan Bhuana Kosa juga disebutkan terkait keberadaan Dwarapala sebagai pancaran kekuatan Tuhan Yang Maha Esa, yakni dinamakan Sang Hyang Panca Kala sebagai penjaga alam semesta. Dalam miniaturnya, konsep ini ditanamkan di pekarangan tempat suci atau rumah. Di sebelah kanan gerbang dinamakan Sang Maha Kala, Sebelah kiri Sang Adi Kala, tepat di pintu masuk Sang Kala, di depan pintu Sang Sunia Kala, dan pada aling-aling Sang Dora Kala.

Menurut Dr. I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag., M.Fil.H, keberadaan sosok Dwarapala ini memang akrab dengan kehidupan umat Hindu di Bali. Tak hanya di tempat suci, namun terkadang beberapa rumah juga memajang patung Dwarapala di sebelah kanan dan kiri gerbang. “Tentunya patung ini bukan sekadar pajangan. Namun seperti yang kita tahu, senantiasa ada makna di balik benda-benda yang dibuat dan diletakkan oleh umat Hindu di Bali. Apalagi patung ini yang kerap ditemui di pintu masuk tempat suci,” ujarnya.

Selain mitologi yang berkaitan dengan sosok penjaga pintu masuk, Dwarapala dikatakannya merupakan cerminan manusia yang hendak masuk ke tempat suci. Dari raut muka Dwarapala, manusia dikatakannya diingatkan untuk mengintrospeksi diri sebelum masuk ke pura, sanggah merajan, atau bertamu ke rumha orang. “Jadi, patung tersebut ibaratnya cerminan bagi kita. Sebelum masuk ke tempat suci, hendaknya mengintrospkesi diri. Apakah kita sudah membersihkan diri, pikiran, perkataan, maupun tindakan. Artinya, begitu masuk tempat suci, kita harus melepaskan sifat-sifat keraksasaan kita,” terangnya.

Lebih lanjut, kata pria yang akrab disapa Jro Dalang Nabe Roby ini, patung tersebut hendaknya memang dihormati dan bisa diberikan sesajen. Namun perlu diingat, konsentrasi umat bukan kepada wujud fisik patung tersebut, melainkan makna ketuhanan di balik sosok patung tersebut. Dalam hal ini, kekuatan Tuhan sebagai penjaga dunia. “Jadi, seperti arca atau patung lainnya, konsentrasi kita adalah tetap kepada kemahakuasaan Tuhan yang salah satu kekuatan-Nya disimbolkan berbentuk sosok penjaga. Ini yang penting,” tegas dosen IHDN Denpasar tersebut.

Sementara, kini di depan pintu gerbang rumah umat Hindu di Bali tak jarang dipasang patung berupa tokoh pewayangan seperti Sangut-Delem, Tualen-Merdah, atau binatang tertentu seperti singa, macan, bahkan anjing. Hal itu menurutnya tentu memiliki makna yang tak jauh berbeda. Sangut-Delem dan Merdah-Tualen adalah simbol rwabhineda atau dua hal berlainan yang tak dapat dipisahkan. Misalnya, baik-buruk, benar-salah, langit-bumi, positif-negatif, dan sebagainya.

Selain itu, mereka ada sosok parekan atau abdi yang biasa menjaga dan mendampingi tokoh-tokoh kerajaan. Sedangkan patung berbentuk binatang tentunya juga memiliki makna sebagai sosok penjaga. Dengan demikian, diharapkan si pemilik lebih terlihat berwibawa dan keadaan rumah senantiasa aman.

#5 Lima Fakta Yang Membuat Bule Memilih Jadi Orang Bali

Add Comment

Ada begitu banyak orang asing lumrah disebut ‘bule’ yang memilih jadi orang Bali. Ada bule yang jadi orang Bali setelah lama tinggal di Bali, ada juga yang menetapkan pilihan bahkan sebelum berkunjung ke pulau ini. Dan, tak sedikit diantara mereka yang sampai pindah kewarganegaraan, ’me-suddhi-wadani’, menjadi krama ‘banjar’ (dinas dan adat) dengan segala hak dan kewajibannya, dan minta diaben di Bali kelak saat meninggal.

Imigrasi, terutama dari negara berkembang ke negara maju, mungkin sudah menjadi sesuatu yang sangat lumrah. Tengoklah warga India yang banyak bermigrasi ke Inggris; warga Pakistan dan Afghanistan yang berbondong-bondong ke Perancis; atau warga Cina yang bermigrasi ke Canada dan Australia.

Tetapi bermigrasi dari negara maju ke negara berkembang—terlebih-lebih ke pulau kecil macam Bali—dan memilih menjadi warga lokal, bukan hal biasa; mesti ada alasan kuat untuk itu.

Faktanya, jumlah orang bule yang menetap dan menjadi orang Bali sangat banyak, menyebar mulai dari ujung selatan (Nusa Dua dan Jimbaran) hingga ke ujung Utara pulau Bali (Lovina dan Pemuteran), mulai dari ujung Barat (Pekutatan dan Jembrana) hingga ujung Timur pulau (Tulamben, Karangasem.)

Alasan kuat macam apa, kira-kira, yang membuat seorang bule memilih jadi orang Bali?

Setelah diamati, ternyata masing-masing memiliki alasan yang berbeda, namun semuanya berawal dari suatu peristiwa yang sangat klasik sekaligus prinsipiil, yaitu: JATUH CINTA.

Inilah 5 macam jatuh cinta yang membuat bule memilih jadi Orang Bali:

1. Jatuh Cinta Pada Orang Bali
Seorang bule jatuh cinta pada wanita/pria Bali, menikah lalu menjadi orang Bali, adalah fenomena yang paling banyak terjadi—mungkin sejak jaman Belanda beberapa ratus tahun yang lalu.

Cinta dan asmara, tak mengenal suku bangsa, ras, agama dan golongan. Kebutuhan dasar manusia yang tidak bisa ditunda, diubah, apalagi dimanipulasi atau ditolak begitu saja.

Pesona wanita dan pria Bali di mata pria dan wanita bule, sudah banyak diungkapkan di berbagai media. Beberapa kisah asmara mereka ada yang sampai melegenda, menghias majalah-majalah luar negeri, menginspirasi para penulis buku, dan menjadi buah bibir masyarakat dunia selama berpuluh-puluh tahun lamanya.

Sebut saja kisah asmara Antonio Blanco dengan Ni Ronji misalnya, yang membuat pelukis asal Spanyol ini rela menetap dan menjadi orang Bali, hingga diaben saat meninggal.

Kisah melegenda lainnya adalah antara Le Mayeur, seniman asal Swedia dengan Ni Pollok, yang namanya masih tertulis jelas di Museum Le Mayeur yang berlokasi di Sanur.

Antonio Blanco dan Le Mayeur tentu hanya 2 diantara puluhan atau mungkin ratusan orang bule yang jatuh cinta pada wanita Bali, lalu menjadi orang Bali. Dan tak sedikit juga wanita bule yang jatuh cinta dengan pria Bali, melakoni proses ‘Suddhi Wadani’ (mengukuhkan diri sebagai penganut Hindu), upakara ‘pawiwahan’ (pernikahan), dan akhirnya menjadi orang Bali seutuhnya, terlepas apakah tinggal di dalam atau luar Bali

2. Jatuh Cinta Pada Keindahan Alam Bali
Bule menjadi orang Bali karena mendapat jodoh orang Bali, mungkin fenomena yang paling banyak. Bisa dikenali dengan mudah ketika melihat pria Bule menggendong anak didampingi oleh wanita Bali atau pria Bali menggendong anak kebule-bulean dan didampingi oleh wanita bule, di ruang-ruang publik.

Tak kalah banyaknya adalah pria/wanita bule yang berpasangan dengan bule lainnya, dan menjadi orang Bali. Ini bisa ditemukan di Ubud misalnya atau di daerah dataran tinggi seperti Bedugul atau Bangli. Banyak juga yang tinggal di daerah-daerah urban seperti Kuta, Legian, Kerobokan, Seminyak, Jimbaran, Sanur atau Canggu.
Mereka memilih jadi orang Bali bukan karena jatuh cinta pada orang Bali, melainkan karena jatuh cinta pada keindahan alam Bali. Bule yang seperti ini biasanya turut aktif mengkampanyekan pentingnya menjaga kelestarian alam—mereka tidak ingin Bali menjadi rusak, entah dengan bergerak sendiri atau bersama-sama dalam organisasi tertentu (LSM misalnya.)

Keindahan Bali yang sering digambarkan sebagai “alam yang masih perawan”, molek dan menawan hati, sudah terkenal di seluruh penjuru dunia. Jatuh cinta pada keindahan alam Bali adalah alasan paling lumrah kedua setelah jatuh cinta pada orang Bali.

3. Jatuh Cinta Pada Pola, Orientasi dan Gaya Hidup Orang Bali
Bule, sejak nenek moyangnya sudah terbiasa dengan kehidupan serba kompleks, dimana sebagian besar waktu mereka habiskan untuk mengejar ambisi. Dua dasawarsa belakangan ini mereka sudah mulai bosan dengan yang namanya ‘tactic’, ‘multi-tasking’, ‘burnout.’ Mereka sudah mulai muak dengan “assertive no”, sudah bosan dengan kerja yang serba berpamrih. Bule sudah kenyang dengan semua itu.

Mereka berlibur ke Bali, berinteraksi dengan orang Bali, lalu jatuh cinta. (Perhatikan kehangatan interaksi antara gadis bule dengan odah dari Kintamani di bawah ini; tatapan mata odah yang hangat tersambut oleh cerahnya senyuman si gadis bule.)

Itu banyak terjadi sebelum tahun 90-an, pada saat pola, orientasi dan gaya hidup orang Bali masih sederhana, jujur, dan peduli terhadap orang lain, ‘paras-paros selulung sebayantaka’. Pada saat orang Bali masih lebih sering bilang “nggih” (iya) dibandingkan bilang “No” (tidak). Ketika orang Bali lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menjalankan “swadarma” (mengikuti perputaran karma) ketimbang saling-sikut.

‘Pola-orientasi-dan-gaya hidup’ orang Bali yang seperti itu, dalam pandangan bule, tidak sekedar baik, melainkan indah, menawan, dan menyentuh sanubari. Mereka tergugah dan jatuh cinta pada ‘pola-orientasi-dan-gaya hidup’ orang Bali yang indah itu, lalu memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya di Bali, bersama orang-orang sederhana, berada di lingkungan orang-orang jujur, dan berdampingan dengan orang-orang yang peduli terhadap orang lain.

4. Jatuh Cinta Pada Yoga dan Spritualitas Orang Bali
Di tengah pola hidup yang penuh tekanan, bule semakin menyadari bahwa antibiotik dan obat modern lainnya hanya solusi jangka pendek, dan menimbulkan ekses (buruk) dalam jangka panjang.

Sementara, hiruk-pikuk hiburan di kota metropolitan tak lebih dari sebuah pelarian sementara; stress datang lagi begitu mereka kembali ke rutinitas sehari-hari. Dan… mendatangi rumah ibadah agama yang dianut juga tak banyak mengubah keadaan, mereka tetap merasa kosong, kering dan haus akan “sesuatu.”

Mereka pergi mencari “sesuatu” itu ke wilayah selatan bumi ini, ada yang ke Mexico, ada yang ke Peru, ada yang ke India, ada yang ke Tibet, ada yang ke Jepang, dan ada yang ke Bali.

Itulah awal kesadaran para bule akan keistimewaan spiritualitas Hindu dan Budha, secara umum, lalu berubah menjadi trend gaya hidup ‘minimalism-and-obscurity‘ yang banyak diadopsi oleh kaum urban di dunia Barat sana. Sebuah gaya hidup yang menikmati kesederhanaan, sedanya, dan melupakan masa lalu tanpa perlu mengkhawatirkan masa depan. titik-balik dari hedonisme yang sempat menjangkiti Orang Barat selama berabad-abad sejak revolusi indutri di Inggris Raya sana.

Sebut saja Steve Jobs atau aktor ganteng Richard Gere misalnya.

Petuah Swami Vivekananda (seorang penulis sastra Hindu terkenal dari India) menjadi semacam “Daily Bread” baru bagi mereka.

Deepak Chopra Center selalu dibanjiri oleh Yogis-Yogis baru berambut pirang.
Mereka memerlukan spritualitas yang tidak semata-mata mengajarkan tentang “surga-dan-neraka”, yang tidak semata-mata mengandung perintah dan doktrin, melainkan mengajarkan mereka tentang cara hidup. Dan mereka menemukan itu di Hindu, seperti yang mereka katakan, “that not only a religion; rather, it is a way of life.” Sebuah cara hidup yang tidak saja membuat mereka lebih sehat, melainkan juga lebih tenang, damai secara rohani, sekaligus lebih bergairah.

Yang agak unik adalah fenomena dimana seorang bule Hawaii beristrikan orang Amerika keturunan Jepang (pernah ngobrol dengan penulis sekitar awal tahun 2000-an tetapi sekarang sudah kehilangan kontak) mendapat wangsit untuk menjadi seorang ‘Pemangku’ (pengantar doa) di salahsatu pura di Tabanan. Dia terhubung dengan Bali, secara spiritual, jauh sebelum berkunjung untuk pertamakalinya. Si bule yang satu ini, menurut pengakuannya, sampai bikin sanggah dan pura di Hawaii sana.

Bule yang menjadi orang Bali karena ketertarikan spiritualitas, bisa dikenali dengan melihat Pura yang cukup besar di rumahnya (semacam pemerajan alit yang terdiri dari Padmasana, dan beberapa Pelinggih saja—tanpa Meru), lengkap dengan ‘lebuh’ yang selalu berisi ‘canang’ dan ‘nasi pengeluar’ setiap sore, serta memiliki kamar suci untuk bermeditasi.

5. Jatuh Cinta Pada Kreatifitas dan Kesenian Orang Bali
Oleh bule, masyarakat Bali dikenal sebagai orang-orang yang kreatif dan memiliki talenta seni—menghasilkan berbagai macam produk seni dan kerajinan tangan yang tak ada duanya di dunia, dalam hal keunikan, hanya dengan menggunakan alat sederhana.
Banyak bule yang jatuh cinta pada itu dan berkeinginan untuk menyalurkan kreatifitas dan karya seni orang Bali ke pasar-pasar mancanegara, lalu mendirikan perusahaan dagang (trading company) dan agen perdagangan (trading agency).

Kesibukan mereka mengkanalkan hasil kreatifitas dan seni orang Bali membuat para bule lebih banyak tinggal di Bali, berinteraksi dan membina hubungan dengan orang Bali. Pertimbangan biaya perjalanan dan akomodasilah yang akhirnya membuat mereka memutuskan untuk pindah, menetap, dan menjadi bagian dari masyarakat Bali.

Apakah fenomena ‘bule-menjadi-orang-Bali’ adalah sesuatu yang perlu dibanggakan? Terlepas dari persoalan perlu-atau-tidaknya berbangga, beberapa pertanyaan yang mungkin penting untuk kita—sebagai orang Bali—jawab adalah:

Begitu banyak bule yang memilih menjadi orang Bali dengan berbagai alasan; perlukah kita mengubah jati diri menjadi sesuatu yang lain?

Orang bule saja begitu mencintai kesederhanaan pola, orientasi dan gaya hidup orang Bali bahkan ada yang konon sampai merasa iri dalam konteks positif; perlukah orang Balinya sendiri mengubah itu menjadi sesuatu yang kompleks—demi ‘membeli’ gimmick globalisasi dan moderenitas?

Orang bule saja sudah muak dengan kata “Assertive No”—yang berimplikasi pada peningkatan stress—dan jatuh cinta pada kata “nggih” (iya)—yang menyiratkan penerimaan dan koperatifitas; perlukan kita belajar ngotot mengatakan “tidak” dengan lantang?

Orang bule saja jatuh cinta pada jalan hidup dan spiritualitas orang Bali; perlukah mengubah jalan hidup dan spiritualitas yang sudah kita miliki menjadi sesuatu yang lain?

Orang bule saja memilih menjadi orang Bali; perlukan kita menjadi orang lain?

Orang bule yang mendunia saja bangga menggunakan nama Made Wijaya; perlukah kita berganti nama menjadi Michael Robertino supaya diterima oleh komunitas global?


Orang bule saja bangga dan bersukur telah memilih jadi orang Bali; tidakkah, setidak-tidaknya, kita perlu bersukur menjadi orang Bali?