Loading...
Tampilkan postingan dengan label PELINGGIH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PELINGGIH. Tampilkan semua postingan

Makna Sanggah Tawang Dan Sanggah Surya Bagi Umat Hindu di Bali

Add Comment

Umat Hindu di Bali secara tidak langsung memberikan posisi penting bagi salah satu dari 33 Dewa yang tertuang dalam Rg. Weda, yakni Dewa Surya. Hal ini dibuktikan dengan menempatkan Sanggah Surya dalam aktivitas Yadnya, minimal dalam posisi tinggi yang menggambarkan linggih atau kehadiran Dewa Surya.

Sanggah Surya di beberapa daerah di Bali, juga sering disebut dengan Sanggah Agung. Keduanya bermula dari dua kata, yakni Sanggah yang mengandung arti sumber, sedangkan Agung menekankan kewibawaan Sang Hyang Siwa Raditya yang tak lain adalah Dewa Surya.

Ukuran Sanggah Surya biasanya lebih tinggi dari pinggang manusia, bahkan ketika dilaksanakannya upacara Yadnya, sanggah ini dibuat lebih tinggi dari dasar bangunan tempat dilaksanakannya upacara Yadnya.

Menurut Budayawan Kota Denpasar, I Gede Anom Ranuara, Sanggah Surya dibuat dengan menggunakan empat batang bambu yang ditancapkan di sisi Timur Laut atau arah kaje kangin. Posisi ini mengacu kepada pembagian pekarangan berdasarkan Asta Kosala- kosali. Di mana arah kaje Kangin merupakan pertemuan antara utama dengan utama, sehingga sering disebut arah Dewata. Untuk diketahui bahwa Sanggah Surya hanya memiliki satu ruangan saja dan dibatasi menggunakan ancak saji.

Lebih lanjut Anom mengatakan, Sanggah Surya sangat penting ketika pelaksanaan upacara yadnya, khususnya yang menggunakan banten Bebangkit yang dipuput oleh seorang Sulinggih. Ketika tidak ada Sanggah Surya yang merupakan stana Sang Hyang Siwa Raditya, maka dikatakan suatu upacara yadnya belum lengkap. Hal ini sesuai dengan prabhawa Sang Hyang Surya sebagau Upasaksi.

Kebiasaan ini bisa dilihat ketika hendak melaksanakan Panca Sembah, di mana setelah pelaksanaan sembah puyung dilanjutkan menggunakan bunga putih sebagai persembahan kepada Dewa Surya sebagai saksi dari persembahyangan. “Begitu halnya upacara yadnya, Panca Sembah kan juga yadnya, namun skalanya lebih kecil.

Selain Sanggah Surya, di Bali juga dikenal dengan adanya Sanggah Tawang. Kata Sanggah berarti sumber, dan Tawang memiliki penekanan arti awing-awang yang dapat diartikan sebagai kesunyian atau sepi. Jadi, Sanggah Tawang dapat diartikan sebagai sumber kesepian, di mana kesepian dan kesunyian tak lain adalah Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Sanggah Tawang dibuat dari bambu berbentuk segi empat panjang yang memiliki pinggiran yang disebut dengan ancak saji. Sama halnya seperti Sanggah Surya, Sanggah Tawang tidak menggunakan atap, namun terdiri dari tiga ruang atau rong telu yang merupakan simbol Dewa Surya dalam tatanan Tri Sakti , yakni Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa.

Penggunaan Sanggah Tawang ini biasa dijumpai ketika dilaksanakannya upacara dengan tingkatan Utama. Beberapa di antaranya yakni Tawur Agung, Padudusan Agung.

Dengan demikian, Sanggah Tawang mempunyai makna sebagai simbol stananya Sang Hyang Widhi sebagai simbol manifestasinya yang merupakan permohonan umat Hindu dalam suatu upacara agama. Dalam Pustaka Bhuwana disebutkan kosa 1.2.10 ‘Sunyasca Nirbhanadhika, Siwanga Twe Raniksyate, Kutah Tad Wakyama Tulam, Srutwa Dewo Watista, yang artinya ada alam sunia yang dianggap sakti, itulah yang disebut dengan Sang Hyang Siwa.

Dengan melihat sloka tersebut, dapat diartikan bahwa Sanggah Tawang yang menggunakan tiga ruangan sebagai simbol Tri Purusa, yakni Siwa, Sadhasiwa, dan Paramasiwa.

“Hal ini tentu sangat erat kaitannya dengan Tri Sakti dan Tri Murti,” pungkasnya.

Mengetahui Arti Dan Makna Catur Sanak (Kanda Pat)

Add Comment


CATUR SANAK (KANDAPAT).
 Dari awal terciptanya manusia dalam kandungan banyak sekali unsur-unsur yang membantunya, sehingga dapat menjadi manusia yang siap untuk lahir. Unsur-unsur tersebut misalnya : Darah, lamad, yeh nyom, ari-ari yang disebut CATUR SANAK atau kandapat.
 Kandapat/sang catur sanak mempunyai tugas menjaga dan menuntun umat manusia sesuai dengan maksud serta tujuan dari manusi itu sendiri sejak bayi masih dalam kandungan (kandapat serjeroning garba) yakni :
  1. babu abera
  2. babu sugian
  3. babu lembana
  4. babu kekered
  5. bayi itu sendiri bernama I lega perana
 KANDAPAT RARE
Setelah berbulan-bulan lamanya sang bayi dalam kandungan yang dibantu oleh sang catur sanak maka lahirlah bayi itu kedunia yang diantar oleh yeh nyom, getih, banah(lamas) dan ari ari, maka berubah pula nama kandapat sejeroning garba sekarang menjadi KANDAPAT RARE. Yakni :
  1. I Jelahir
  2. I selabir
  3. I mokahir
  4. I selahir
  5. sedangkan badan bayi bernama I tutur menget.
 KANDAPAT BHUTA
Setelah bayi mengalami proses meningkat menjadi anak-anak, maka berubalah nama, karena meninggali tubuh anak pergi ketempat penjuru atau nyatur desa berubah perujudan kandapat rare menjadi kandapat bhuta yakni :
  1. daitya anggapati
  2. daitya merajapati
  3. daitya banaspati
  4. daitya banaspati raja
  5. kala mretyu atau sang angkus perana
 KANDAPAT SARI
Setelah meningkat dewasa dan sudah mulai bisa menentukan arah tujuan dan mencari jati diri dan selalu melindungi,membantu maka perwujudan kandapat bhuta menjadi kandapat sari :
  1. I ratu ngurah tangkep langit
  2. I ratu wayan tebeng
  3. I ratu made jelawung
  4. I ratu nyoman sakti pengadangan
  5. I ratu ketut petung
 KANDAPAT DEWA
Setelah mencari ke dalam diri sang sujati maka meningkatkan kesucian,jenana, maka kandapat sari berubah menjadi kandapat dewa yakni :
  1. BETHARA ISWARA
  2. BETHARA BRAHMA
  3. BETHARA MAHADEWA
  4. BETHARA WISNU
  5. BETHARA SIWA
Maka akan menuju jalan pelepasan diri dari kemelekatan menuju sang BRAHMAN
 Dalam sastra kandapat atau TATTWA KANDAPAT dijelaskan sebagai berikut :
  1. RING PURWA(timur) : Ngaran aprag, yeh nyom menjadi KULIT NGRAN IBUK, kulit ngaran ibuk menjadi BHUTA PUTIH, butha putih menjadi ANGGAPATI, makrane bayune mawisesa, dadi SANG KUSIKA,sang kusika dadi BHATARA ISWARA, sweta warna, ring pupusuh mulih, lehnya ngawe tuang angina ngeranayang PANAS – TIS.
  2. RING DAKSINA (SELATAN) : NGARAN GETIS, dadi isi, NGARAN I BODO dadi BHUTA ABANG, dadi MRAJAPATI, makrana wanen dadi SANG GARGA dadi BHATARA BRAHMA, abang rupanya mesuang geni ring IRUNG kiwa- tengen, enter makrane ada JELE MELAH
  3. RING PASCIMA (barat) : SUGIAN NGARAN, lamas dadi BHUTA KUNING dadi BANASPATI, makrana pageh, dadi sang metri ring UWAT, BHATARA MAHADEWA ring KARNA mengenah ngerungu
  4. RING UTARA : ARI-ARI dadi tulang,NGARAN IBAKE dadi IRENG NGARAN SANG BASUKIH dadi BANASPATI RAJA dadi sang KURSIA dadi BETHARA WISNU, ring ampru magenah mesuang yeh ring tingal ngawas jele melah
  5. RING TENGAH : I BAGIA, dadi SANG PRE TANJALA,ring jajah dadi BHATARA SIWA rupanya manca warna ring lidah magenah taler ngerasayang jele melah.
 Yan sire arep nunggalan sang CATUR SANAK,sambat aranta kabeh,incepan ring ulu angen kumpulang ditu rasayang. Suba ditu terusang ke kuncite, ngaran cecokan sirahe ring ungkur beneng ring lelata, ditu ciptayang kayunta mwang sakaweh ajak bareng tunggalang sang CATUR SANAK, TUNASANG SAKE AREP, SIDA SAGAWE NGERAKSA JIWA,KESIDIAN, KETEGUHAN, KESAKTIAN, METAMBAAN WENANG
 SIFAT DARI KANDAPAT RARE.
  1. masih belum mengetahui baik dan buruk laku kehidupan
  2. pikirannya belum bisa menentukan arah/focus..
  3. prilakunya malas susah dikendalikan.
 SIFAT DARI KANDAPAT BHUTA
  1. Awidya (kebodohan)
  2. angkuh,congkak, merasa diri lebih dari orang lain, ingin melemahkan dan mengalahkan orang lain dengan cara yang tidak baik
  3. mempunyai sifat dengki,irihati, dengan kemampuan orang lain.
  4. bnermaksud memiliki kepunyaan orang lain dengan cara bertentangan dengan kebenaran.
  5. ingin menyakiti hati orang lain jika maksudnya tiada tercapai

SIFAT DARI KANDAPAT SARI
Sifat dari kandapat sari adalah kebalikan dari kandapat buta, memanfaatkan dalam diri.

SIFAT DARI KANDAPAT DEWA
Sifat inilah yang akan menuntun manusia menuju jalan kesucian…

DAMPAK/ EFEK NEGATIVE YANG DISEBABKAN OLEH KANDAPAT
  1. Sang catur sanak atau kandapat tdk akan menghiraukan diri kita dan tdk mau membantu dalam segala hal jika kita tidak saying.
  2. kadang kadang kandapatdapat membantu akan penyebaran penyakit yang akan meninpa diri kita sendiri.
  3. jika ada musuh yang membahayakan diri kita,kandapat akan memihak kepada musuh.
  4. diri sendiri dibuat binggung,tidak tenang,gelisah,pemarah,kedewan2an,sungsang energi.
  5. dalam kehidupan hampa dan tdk berarti dan merasa putus asa atau kecewa, sandang pangan menjauh, serasa kehidupan seperti penyiksaan.
  6. kesusahan semakin bertambah banyak,selalu gagal,musuh semkin banyak pula.
  7. seolah2 merasa diserang dan dimusuhi dan dicurigai sesuai dengan kenyataan pikiran padahal tidak.
  8. kadang2 sering mengoda untuk melakukan perbuatan melawan kebenaran.
  9. sering engoda di kelurga,percecokan, memendekan usia,pelecehan.

ATURAN-ATURAN YANG HARUS DIPAHAMI UNTUK MEMPELAJARI KANDAPAT
  1. Membersihkan diri terutama sudah diwinten saraswati.
  2. memahami filsafat dan pepelajahan.
  3. melatih atau mempelajari kandapat harus mengunakan hari baik berdasarkan wariga.
  4. mencari tempat yang bersih dan suci untuk mempelajari kandapat.
  5. harus mengunakan upakara berdasarkan tingkat pepelajahannya.
  6. mengunakan mantram sesuai tingkat pepelajahannya.
  7. mencari guru memahmi tattwa, filosofis,etika, dan tahu ilmu kandapat, bertannyalah sampai mendetail tentang kandpat, sekali belajar maka akan tahu dampknya ketika sang guru tdk tahu kandapat..
  8. melatih jangan pada jam 12 siang atau tengah hari atau jam 12 malam, yang mengakibatkan kurang baik.

DAMPAK BELAJAR KANDAPAT
Dampak yang sangat penting adalah lewat 3 tahun maka seseorang yang belajar tdk pada aturannya maka akan mengalami yang ditulis diatas, apabila tdk diperbaiki selama tiga tahun maka tempo 7 tahun mulailah perubahan dratis akan dialami yang sangat luar biasa sangat meyiksa…. Dan apabila masih tdk dilebur dan diperbiki(dilebur oleh orang yang benar2 tahu dn paham menguasai kandapat) maka lebih 14 tahun maka mati tidak hiduppun tidak artinya sang dumadi gelap dan sang catur sanak sdh lepas dr tanggung jawab dari asal usul/wit dan leluhur…..

Inilah Makna dan Arti Sanggah Kemulan Yang Patut Diketahui

Add Comment
Secara etimologi kata, Sanggah Kamula terdiri dari dua buah kata yaitu Sanggah dan Kamulan. Sanggah adalah perubahan ucapan dari pada “sanggar”, arti sanggar menurut pengertian lontar keagamaan di Bali adalah tempat memuja. Misalnya dalam lontar Sivagama disebutkan “nista sapuluhing saduluk sanggar pratiwi wangun” (Rontal Sivagama, lembar 328). Kamulan berasal dari kata “mula” (samkrit), yang berarti; akar, umbi, dasar, permulaan, asal. Awalan ka-, dan akhiran-an menunjukkan tempat pemujaan asal atau sumber. Sanggah Kamulan adalah tempat pemujaan asal atau sumber, Hyang Kamulan  atau Hyang Kamimitan.


Kamimitan berasal dari kawa Wit, (huruf m adalah sekeluarga huruf W). Kamimitan adalah lain ucapan dari kata kawiwitan, berasal dari kata wit, yang berarti asal atau sumber pula (Wikarman, 1998: 2). Dengan pengertian ini sebenarnya kita sudah dapat menarik atau menyimpulkan bahwa yang dipuja pada Sanggah Kamulan itu tidak lain yang merupakan sumber atau asal dari mana manusia itu ada.

Lalu muncul suatu pertanyaan, siapakah yang dimaksud dengan Hyang Kamulan atau kawitan yang merupakan asal manusia itu? Inilah yang perlu kita telaah secara mendalam dalam uraian selanjutnya. Namun sebelumnya marilah kita ungkapkan dulu dasar hukum dari pendirian Sanggah Kamulan itu. Dalam lontar Sivagama kita jumpai suatu uraian tentang pendirian Hyang Kamulan. Kutipannya sebagai berikut;

“bhagawan manohari, Sivapaksa sira, kinwa kinon de Sri Gondarapati, umaryanang sadhayangan, manista madya motama, mamarirta swadarmaning wong kabeh. Lyan swadadyaning wang saduluking wang kawan dasa kinon magawe pangtikrama. Wwang setengah bhaga rwang puluhing saduluk, sanggarpratiwi wangunen ika mwang kamulan panunggalanya sowing.”

Artinya ;
“Bhagawan Manohari pengikut Siva, beliau disuruh oleh Sri Gondarapati, untuk membangun Sad Khayangan Kecil, sedang maupun besar. Yang merupakan beban kewajiban orang semua. Lain kewajiban sekelompok orang untuk empat pulih keluarga harus membangun panti. Adapun setengah bagian dari itu yakni 20 keluarga, harus membangun ibu. Kecilnya 10 keluarga pratiwi harus dibangun, dan kamulan satu-satunya tempat pemujaan (yang harus dibangun) pada masing-masing pekarangan.”

Dengan kutipan di atas jelaslah bagi kita, bahwa setiap keluarga yang menempati karang perumahan tersendiri wajib membangun Sanggah Kamulan. Jadi lontar Sivagama inilah yang merupakan dasar hukum bagi pendirian Sanggah Kamulan itu. Lontar Sivagama adalah merupakan Pustaka suci bagian Smrti dari Sekte Siva. Oleh karena itu ajaran Siva seperti yang tercantum pada lontar Sivagama itu wajib diikuti oleh pengikutnya.

Hyang Kemulan Disebut Juga Sanghyang Triatma
Kamulan atau kawitan adalah merupakan sumber atau asal manusia itu sendiri. Lalu siapakah yang dimaksud sumber atau asal itu? Siapakah yang menyebabkan adanya manusia atau jatma itu? Manusia umumnya dalam bahasa Bali halus disebut “jatma” yang berasal dari akar kata Ja, yang artinya lahir, dan atma  berarti roh. Jadi jatma berarti roh yang lahir. Dengan ungkapan itu maka sesungguhnya manusia ada karena adanya atma yang lahir, dengan demikian atmalah yang menjadi sumber adanya manusia itu sesungguhnya.
Hal ini akan sesuai benar dengan pernyataan lontar-lontar Gong Wesi, Usana Dewa, tattwa kepatian dan Purwa bhumi kamulan. Lontar-lontar tersebut menyebutkan bahwa yang bersthana pada Sanggah Kamulan adalah Sanghyang Triatma atau tiga aspek dari atma itu sendiri.
Dalam lontar Usana Dewa disebutkan :

“ring kamulan ngaran ida sang hyang atma, ring kamulan tengen bapa ngaran sang paratma, ring kamulan kiwa ibu ngaran sang sivatma,ring kamulan tengah ngaran raganya, tu brahma dadi meme bapa, meraga sang hyang tuduh” (Rontal Usana Dewa, lembar 4)

Artinya :
”Pada sanggah Kamulan beliau bergelar Sang Hyang Atma, pada ruang kamulan kanan ayah, namanya Sang Hyang Paratma. Pada kamulan kiri ibu, disebut Sivatma. Pada kamulan ruang tengah diri-Nya, itu Brahma, menjadi purusa pradana, berwujud Sang Hyang Tuduh (Tuhan yang menakdirkan).”

Demikian juga lontar Gong Wesi, kita jumpai kutipan yang hampir sama dengan yang tersurat pada Usana Dewa. Kutipannya adalah sebagai berikut : “ngaran ira sang atma ring kamulan tengen bapanta, nga, sang paratma, ring kamulan kiwa ibunta, nga, sang sivatma, ring kamulan madya raganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi sanghyang tunggal, nungalang raga” (Rontal Gong Wesi, lembar 4b).

Artinya :
“nama beliau sang atma, pada ruang kamulan kanan bapakmu, yaitu Sang Paratma, pada ruang kamulan kiri ibumu, yaitu Sang Sivatma, pada ruang kamulan tengah adalah menyatu menjadi Sanghyang Tunggal menyatukan wujud.”

Dari dua kutipan lontar di atas jelaslah bagi kita, bahwa yang bersthana pada sanggah kamulan itu adalah Sanghyang Triatma, yaitu; Paratma yang diidentikkan sebagai ayah (purusa), Sang Sivatma yang diidentikkan Ibu (predana) dan Sang Atma yang diidentikkan sebagai diri sendiri (roh individu). Yang hakekatnya Sanghyang Triatma itu tidak lain dari pada Brahma atau Hyang Tunggal/ Hyang Tuduh sebagai pencipta (upti).

Hyang KEmulan Disebut Juga Roh suci Leluhur
Dalam lontar Purwa Bhumi Kamulan disebutkan bahwa atma yang telah disucikan yang disebut Dewapitara, juga disthanakan di sanggah kamulan, seperti disebutkan : “riwus mangkana daksina pangadegan Sang Dewa Pitara, tinuntun akena maring sanggah kamulan, yan lanang unggahakena ring tengen, yan wadon unggahakena maring kiwa, irika mapisan lawan dewa hyangnya nguni” (Purwa Bhumi kamulan, lembar: #).

Artinya :
“Setelah demikian daksina perwujudan roh suci dituntun pada Sanghyang Kamulan, kalau bekas roh itu laki naikkan pada ruang kanan, kalau roh suci itu bekas perempuan dinaikkan di sebelah kiri, disana menyatu dengan leluhurnya terdahulu.”

Dalam rontal Tatwa Kapatian disebutkan bahwa sanghyang atma (roh) setelah mengalami proses upacara akan bersthana pada sanggah kamulan sesuai dengan kadar kesucian atma itu sendiri. Atma yang masih belum suci, yang hanya baru mendapat “tirtha pangentas pendem” atau upacara sementara (ngurug) juga dapat tempat pada Sanggah Kamulan sampai tingkat “batur kamulan”, seperti disebutkan : 

"Mwah tingkahing wong mati mapendem, wenang mapangentas wau mapendem, phalanya polih lungguh Sang Atma munggwing batur kamulan” (Rontal Tattwa Kapatian, 1a. 1b).

Artinya :
“Dan prihalnya orang mati yang ditanam, harus memakai tirtha pangentas baru diurug, hasilnya mendapatkan tempat Sang Atma pada Batur Kamulan”

Dari kutipan-kutipan di atas jelaslah bagi kita bahwa Hyang Kamulan yang dipuja pada Sanggah Kamulan adalah juga roh suci leluhur, roh suci Ibu dan Bapak ke atas yang merupakan leluhur lencang umat yang telah menyatu dengan Sang Penciptanya, yang dalam lontar Gong Wesi/ Usana Dewa sebagai Hyang Tuduh atau Brahma, yang merupakan asal muasal adanya manusia di dunia ini.

Inilah Makan dan Pungsi Pelangkiran di Kamar Tidur

Add Comment


Fungsi pelangkiran dan macam macam pelangkiran:

Pelangkiran / Plangkiran adalah niyasa yang bersifat umum dan tergantung dari letaknya serta tujuan pemuja untuk menstanakan Bhatara / Dewa siapa yang ingin dipuja.Beberapa keberadaan pelangkiran tersebut dijelaskan sebagai berikut :

  • Di Warung / Toko / Tempat Usaha, stana untuk Bhatara Sri Sedana sebagai pemberi kemakmuran kepada setiap umat manusia.
  • Di kamar tidur, stana untuk Kandapat; 
  • Di dapur, stana untuk Bhatara Brahma; 
  • Sumur/jeding/kran air, untuk Bhatara Wisnu; 
  • Di pasar tempat berjualan, untuk Bhatari Dewa Ayu Melanting; 
  • Di kantor, untuk Bhagawan Panyarikan atau Dewi Saraswati, dst.


  • Juga dijelaskan fungsi pelangkiran untuk anak yang baru lahir sampai diupacarai 3 bulan, maka dibuatkan pelangkiran dari ulatan lidi/ ibus yang dinamakan berbentuk bulat, digantungkan di atas tempat tidur bayi. Itu adalah stana Sanghyang Kumara, manifestasi sebagai perwujadan Bhatara Siwa yang ditugasi ngemban para bayi. Setelah upacara 3 bulanan sampai terus dewasa – tua, pelangkiran diganti dengan bentuk yang dipakukan ke tembok. Ini pelinggih Kanda-Pat (bukan Hyang Kumara lagi).
  • Pelangkiran juga untuk ‘pengayatan’
  • Sanggah Pamerajan, yang jauh dari rantau.
  • Bhatara Dewa Ayu Melanting, bagi para pedagang.
  • Taksu, bagi para pregina.
  • Bhagawan Panyarikan, untuk di ruangan rapat/ pertemuan dll.


MAKNA DAN FUNGSI PLANGKIRAN DI KAMAR TIDUR

Dalam lontar Aji Maya Sandhi disebutkan ketika manusia sedang tidur maka Kanda Pat itu keluar dari tubuh manusia dan bergentayangan, ada yang duduk di dada, di perut, di tangan dsb. sehingga mengganggu tidur manusia; oleh karena itu perlu dibuatkan pelangkiran untuk stananya agar mereka dapat melaksanakan tugas sebagai penunggu urip.

Jika itu dilaksanakan maka manusia akan tidur dengan tenang dan nyenyak karena sudah ada yang menjaga dari segala bentuk gangguan roh jahat.

pelangkiran dari kayu di atas tempat tidur, sebagai stana Kandapat, sedangkan Kandapat diwujudkan dalam bentuk daksina lingga, yakni sebuah daksina yang dibungkus dengan kain putih/kuning. Kemudian dihaturi banten tegteg-daksina-peras-ajuman (pejati) dan setiap bulan purnama dibaharui/diganti, daksina lingganya tidak perlu diganti (biarkan selamanya di situ)

Setiap hari dihaturi banten saiban/jotan

Setiap mau meninggalkan rumah pamit ke Kandapat dan pulangnya membawa oleh-oleh makanan/kuwe, dll. sekedarnya saja, tanda ingat.

Kalau gajian/mendapat hasil uang, dihaturkan dahnulu di situ, biarkan semalam, keesokan harinya baru ‘dilungsur’ .
wa
Setiap mau tidur sembahyang, seraya memohon ke Kandapat menjaga kita selama tidur.

Doa Sebelum Tidur :

Om Asato Ma Sat Gamaya, Tamaso Ma Jyotir Gamaya Mrityor Mamritan Gamaya

Artinya :


Oh Sanghyang Widhi Wasa, Tuntunlah Kami Dari Jalan Sesat Ke Jalan Yang Benar, Dari Jalan Gelap Ke Jalan Yang Terang Hindarkan Kami Dari Kematian Menuju Kehidupan Sejati.

Inilah Arti Dan Makna Sanggah Turus Lumbung

Add Comment
Sanggah Turus Lumbung adalah sanggah yng terbuat dari pohon dapdap dan juga di awal pembuatan sanggah, banyak umat yang menggunakan pepohonan ini yang dipercayai sebagai taru sakti.

Namun sejalan dengan pertumbuhan ekonomi maka didirikanlah sanggah permanen. Mengenai batasan waktu penggunaan turus lumbung memang secara mutlak tidak ada ketentuannya. sebab sesuai dengan sifat ajaran agama hindu yang luwes, pengalamannya selalu dikembalikan kepada umat yang bersangkutan, Terutama masalah kemampuan umat untuk membuat sanggah yang permanen atau tidak. Sebagaimana disebutkan, sanggah ini juga merupakan salah satu tempat auci dalam pekarangan rumah.

Perkembangan sanggah turus lumbung ini, Sebagai tempat suci disebutkan bahwa Bangunan ini dibuat dari ”turus pohon dapdap” sebagai tiangnya dan dibuatkan sebuah ruangan dengan balai-­balai yang dibuat dari bambu untuk tempat meletakkan banten. Bangunan suci jenis ini disebut ”turus lumbung”.

Turus lumbung mengandung arti kias “melindungi dan menghidupi pemujanya”. Turus dapdap merupakan tameng atau perisai, yakni alat untuk melindungi diri ; dan lumbung, yakni tempat untuk menyimpan padi untuk penghidupan. Bangunan ini sifatnya sementara yang nantinya akan diganti dengan bangunan yang agak permanen menurut kemampuan penghuninya.

Setelah penghuninya agak mampu, barulah mereka membuat bangunan untuk mengganti turus lumbung itu. Bangunan pelinggih ini dibuat dari kayu dan bambu serta memakai satu ruangan (me-rong tunggal) yang digunakan untuk tempat sajian. Bangunan rong tunggal inilah yang disebut ” kemulan atau sanggah kemulan”. Peninggalan-peninggalan bangunan ini dijumpai di desa­-desa Bali kuno, seperti di Julah, Sembiran, Lateng, Dausa, dan tempat kuno lainnya.

Lama kelamaan oleh karena kebudayaan manusia makin maju, maka dalam perkembangan sejarah bangunan rong tunggal berkembang menjadi dua ruangan (merong dua). Dalam perkembangan selanjutnya bangunan rong dua berkembang menjadi Bali yang beragama Hindu.

Bangunan seperti ini merupakan tempat untuk menghormati atau memuja leluhur-leluhur mereka yang telah disucikan. Selanjutnya, dalam perkembangan kemudian, bangunan yang memakai ruangan tiga (rong telu) disesuaikan dengan konsep Trimurti sebagai sanggah kemulan, sebagai tempat pemujaan leluhur.