Loading...

Inilah Makna Dari Suara Tetimpug Saat Upacara Pawiwahan

Add Comment

Dalam rangkaian upacara Pawiwahan (Pernikahan) adat Hindu, ada tiga buah bambu yang dibakar hingga meletup yang disebut Tetimpugan. Sejatinya, apa makna dan fungsi Tetimpugan?

Pernikahan merupakan saat – saat yang paling dinanti. Fase Grahasta dalam ajaran Catur Asrama ini haruslah dilaksanakan sesuai tata cara yang benar. Itulah sebabnya, upacara Madengen-dengen atau Makala-kalaan yang memiliki makna dan tujuan ‘membersihkan dan menyucikan’ merupakan bagian terpenting dalam rangkaian upacara pernikahan adat Bali. Dalam rangkaian upacara Pawiwahan terdapat tiga buah bambu yang dibakar dan meletup yang disebut Tetimpugan.

Tetimpug merupakan sarana yang juga dipergunakan dalam upacara Makala-kalaan.

Pemangku asal Desa Keramas, Jero Mangku Made Puspa, mengatakan, Tetimpugan erat kaitannya dengan Bhatara Brahma yang disimbolkan sebagai api. “Sarana yang digunakan untuk memohon penyupatan dari Sang Hyang Brahma dalam upacara yadnya umumnya disimbolkan dengan bambu tiga batang yang dibakar dengan api danyuh kelapa,” ujar Mangku Made Puspa.

Dikatakannya, Tetimpug umumnya berupa tiga buah bumbu mentah yang masih ada kedua ruasnya. Lalu diberi minyak kelapa kemudian diberi sasap yang terbuat dari janur. Biasanya bambu ini, akan dibakar sebelum memulai upacara, sehingga terdengar bunyi letusan tiga kali.

“Di Gianyar, dalam rangkaian upacara Pawiwahan, membunyikan Tetimpugan justru merupakan saat yang ditunggu – tunggu. Konon, katanya jika Tetimpugan itu berbunyi lebih dari tiga kali, maka pasangan tersebut akan dikaruniai banyak anak. Jika kurang dari tiga kali letupan, kami khawatir mungkin ada kekurangan dalam bantennya,” ujar Jero Mangku Made Puspa.

Dalam upacara Bykala (wiwaha), lanjutnya, sudah terkandung tiga macam saksi yang dikenal dengan istilah Tri Upasaksi (tiga saksi), yaitu Dewa Saksi, Manusa Saksi, dan Bhuta Saksi. Dewa Saksi adalah saksi Dewa ( Ida Hyang Widhi Wasa) yang dimohonkan untuk menyaksikan Pawiwahan tersebut. Manusa Saksi adalah semua orang yang datang menghadiri Pawiwahan tersebut dapat dikatakan sebagai saksi, utamanya Bendesa, Kelian Dinas, pemangku yang muput upacara tersebut dan lainnya. Saksi dari para Bhutakala disebut dengan Bhuta Saksi.

Tetimpugan dikatakan sebagai rangkaian dari Bhuta Saksi. “Kita membakar Tetimpug, sehingga menimbulkan suara letupan. Suara letupan tersebut merupakan simbol untuk memanggil Bhutakala agar hadir pada upacara tersebut. Kemudian diberikan suguhan supaya tidak menggangu jalannya upacara,” ungkap Jero Mangku Made Puspa.

Ditegaskannya, perkawinan di Bali dianggap belum sah, jika tidak disaksikan oleh Tri Upasaksi.

Dalam Wiwaha Samsara, Tri Upasaksi adalah tiga saksi yang dihadirkan untuk menyaksikan rangkaian upacara Pawiwahan, yaitu Dewa Saksi, Manusia Saksi, dan Bhuta Saksi.

Dewa saksi biasanya dalam bentuk upakara dan bebantenan. “Dewa saksi, meliputi upakara dan upacara perkawinan kedua mempelai, yang dipuput oleh pedanda,” ujarnya. Sedangkan Manusia Saksi umumnya diwakilkan oleh bendesa adat serta prajuru desa. “Bhuta Saksi biasanya disimbolkan dengan upacara yang dibuatkan untuk kedua mempelai, sebagai wujud menetralisasi Sapta Timira,” tandasnya.

Ditambahkannya, dalam Wiwaha Samskara disebutkan, Tetimpug berfungsi sebagai alat komunikasi, baik niskala maupun sakala. Secara niskala, Tetimpug berfungsi untuk memberitahukan Bhutakala yang akan mendapat persembahan, bahwa upacara Makala-kalaan segera dimulai. Secara sekala, Tetimpug juga mempunyai fungsi untuk memberitahukan kepada warga sekitar bahwa upacara Makala-kalaan segera dimulai.

Tetimpug tidak hanya digunakan dalam upacara pernikahan, tetapi juga digunakan dalam rangkaian upacara lain, seperti Padudusan, Pacaruan Rsi Gana, Labuh Gentuh, dan pacaruan lainnya. “Tetimpugan itu fungsinya sangat vital. Bahkan, dalam berbagai kegiatan upakara, Tetimpugan sering digunakan. Ngodalin, Macaru pasti ada Tetimpug,” ungkapnya.

Pemangku Pura Masceti ini mengungkapkan, baiknya menggunakan bambu dengan jumlah ganjil. “Seharusnya berjumlah ganjil, di mana ruas bambu yang berjumlah ganjil juga. Tiga buah bambu Tetimpug melambangkan Tri Kona, yaitu utpeti, stiti, dan pralina,” terangnya. Jika yang menggunakan lima buah Tetimpug, upacara caru tersebut sudah berada dalam tingkatan yang lebih besar, seperti karya agung. Hal tersebut melambangkan Panca Mahabhuta, yaitu pertiwi, apah, teja, bayu, dan akasa.

Diakuinya, penjelasan Tetimpug seringkali berbeda – beda, sesuai desa kala patranya. “Jika di daerah Ubud, Tetimpug dikatakan sebagai sarana untuk mengundang kekuatan sebagai pelaksana sebuah upacara yadnya,” paparnya.

Konon, tetimpug menjadi sarana pengundang tenaga dan waktu agar harmonis. “Jika Tetimpug tidak bersuara, maka kala itu tidak datang. Begitu juga sebaliknya, jika bersuara, kala itu datang dan merasa terpanggil,” tandasnya.

Inilah Makna Dua Patung Penjaga Gapura Atau Pintu Gerbang Yang Ada di Bali

Add Comment

Jika hendak masuk ke tempat suci di Bali, tak jarang dua patung berwujud seram menyambut di sebelah kanan dan kiri pintu gerbang. Dua patung ini umumnya memiliki ekspresi yang unik, yakni mata melotot, taring panjang dan tajam, namun dibarengi senyum tipis. Dan, salah satu lengannya memegang senjata berupa gada. Siapakah sebenarnya sosok makhluk ini?

Masyarakat Hindu di Bali tidak asing dengan keberadaan dua patung ini. Mereka berdua disebut Dwarapala, yakni sosok penjaga pintu gerbang. Ekspresinya yang seram menyimpan kesan ketegasan dan peringatan bagi siapa pun agar tidak sembarangan masuk ke tempat yang dimaksud. Namun demikian, senyumnya tetap menyiratkan keramahan.

Masing-masing dari patung ini bernama Nandiswara yang terletak di sebelah kanan (kiri pintu gerbang) dan Mahakala yang terletak di sebelah kiri (kanan pintu gerbang). Keberadaan keduanya dikaitkan dengan kekuatan Dewa Siwa sebagai salah satu manifestasi Tuhan dalam Agama Hindu.

Berdasarkan pustaka Uttara Kandha, diceritakan ketika Dewa Indra bertapa di gunung Kailasa bersama para dewa lainnya, datanglah Rahwana untuk mengganggu. Dengan kehebatannya, Rahwana mengangkat Gunung Kailasa sehingga tapa para dewa menjadi gagal.

Saat yang sama, di gunung tersebut ada manusia dengan kepala seperti kera bernama Nandiswara. Nandiswara kemudian menekan gunung sehingga Rahwana terjepit dan kesakitan. Nandiswara bersedia mengampuni Rahwana, asal bersumpah kelak dirinya dikalahkan prajurit berkepala kera.

Berkenaan dengan itu, Dewa Indra berpesan, jika ingin mendapat kesucian, agar mendirikan Candi Kurung atau Kori Agung pada pintu masuk tempat suci dan pekarangan. Candi kurung atau kori agung adalah lambang Gunung Kailasa. Sementara Nandiswara diberikan pesan agar selalu menjaga orang-orang yang mencari kesucian, dengan wujud Dwarapala. Untuk mendampinginya, diwujudkanlah Mahakala.

Keberadaan sosok Dwarapala tidak hanya di Pulau Dewata, namun juga di tempat lain, yang dulunya merupakan pusat-pusat perkembangan ajaran Siwa-Buddha juga terdapat patung ini. Pulau Jawa misalnya. Tidak jarang ditemukan patung Dwarapala pada situs-situs peninggalan kerajaan yang menganut ajaran Siwa-Buddha pada masanya. Bahkan di Singasari, Malang, Jawa Timur, ditemukan pula patung Dwarapala dengan tinggi sekitar 3,7 meter. Selain itu, patung sejenis juga ditemukan di Keraton Yogyakarta, Kamboja, hingga Thailand. Meski sudah berusia ratusan tahun, namun patung-patung tersebut tetap berdiri kokoh.

Kembali ke Patung Dwarapala di Bali, pada hari suci tertentu, umat Hindu menghaturkan sesajen di depannya sebagai ucapan terima kasih kepada sosok penjaga tersebut. Meski terkadang tidak ada patungnya, namun masyarakat Bali biasanya menyediakan kolong di bagian depan sebelah kanan dan kiri gerbang untuk meletakkan sesajen bagi Sang Nandiswara dan Mahakala.

Sementara pada Lontar Widhi Tattwa dan Bhuana Kosa juga disebutkan terkait keberadaan Dwarapala sebagai pancaran kekuatan Tuhan Yang Maha Esa, yakni dinamakan Sang Hyang Panca Kala sebagai penjaga alam semesta. Dalam miniaturnya, konsep ini ditanamkan di pekarangan tempat suci atau rumah. Di sebelah kanan gerbang dinamakan Sang Maha Kala, Sebelah kiri Sang Adi Kala, tepat di pintu masuk Sang Kala, di depan pintu Sang Sunia Kala, dan pada aling-aling Sang Dora Kala.

Menurut Dr. I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag., M.Fil.H, keberadaan sosok Dwarapala ini memang akrab dengan kehidupan umat Hindu di Bali. Tak hanya di tempat suci, namun terkadang beberapa rumah juga memajang patung Dwarapala di sebelah kanan dan kiri gerbang. “Tentunya patung ini bukan sekadar pajangan. Namun seperti yang kita tahu, senantiasa ada makna di balik benda-benda yang dibuat dan diletakkan oleh umat Hindu di Bali. Apalagi patung ini yang kerap ditemui di pintu masuk tempat suci,” ujarnya.

Selain mitologi yang berkaitan dengan sosok penjaga pintu masuk, Dwarapala dikatakannya merupakan cerminan manusia yang hendak masuk ke tempat suci. Dari raut muka Dwarapala, manusia dikatakannya diingatkan untuk mengintrospeksi diri sebelum masuk ke pura, sanggah merajan, atau bertamu ke rumha orang. “Jadi, patung tersebut ibaratnya cerminan bagi kita. Sebelum masuk ke tempat suci, hendaknya mengintrospkesi diri. Apakah kita sudah membersihkan diri, pikiran, perkataan, maupun tindakan. Artinya, begitu masuk tempat suci, kita harus melepaskan sifat-sifat keraksasaan kita,” terangnya.

Lebih lanjut, kata pria yang akrab disapa Jro Dalang Nabe Roby ini, patung tersebut hendaknya memang dihormati dan bisa diberikan sesajen. Namun perlu diingat, konsentrasi umat bukan kepada wujud fisik patung tersebut, melainkan makna ketuhanan di balik sosok patung tersebut. Dalam hal ini, kekuatan Tuhan sebagai penjaga dunia. “Jadi, seperti arca atau patung lainnya, konsentrasi kita adalah tetap kepada kemahakuasaan Tuhan yang salah satu kekuatan-Nya disimbolkan berbentuk sosok penjaga. Ini yang penting,” tegas dosen IHDN Denpasar tersebut.

Sementara, kini di depan pintu gerbang rumah umat Hindu di Bali tak jarang dipasang patung berupa tokoh pewayangan seperti Sangut-Delem, Tualen-Merdah, atau binatang tertentu seperti singa, macan, bahkan anjing. Hal itu menurutnya tentu memiliki makna yang tak jauh berbeda. Sangut-Delem dan Merdah-Tualen adalah simbol rwabhineda atau dua hal berlainan yang tak dapat dipisahkan. Misalnya, baik-buruk, benar-salah, langit-bumi, positif-negatif, dan sebagainya.

Selain itu, mereka ada sosok parekan atau abdi yang biasa menjaga dan mendampingi tokoh-tokoh kerajaan. Sedangkan patung berbentuk binatang tentunya juga memiliki makna sebagai sosok penjaga. Dengan demikian, diharapkan si pemilik lebih terlihat berwibawa dan keadaan rumah senantiasa aman.

#5 Lima Fakta Yang Membuat Bule Memilih Jadi Orang Bali

Add Comment

Ada begitu banyak orang asing lumrah disebut ‘bule’ yang memilih jadi orang Bali. Ada bule yang jadi orang Bali setelah lama tinggal di Bali, ada juga yang menetapkan pilihan bahkan sebelum berkunjung ke pulau ini. Dan, tak sedikit diantara mereka yang sampai pindah kewarganegaraan, ’me-suddhi-wadani’, menjadi krama ‘banjar’ (dinas dan adat) dengan segala hak dan kewajibannya, dan minta diaben di Bali kelak saat meninggal.

Imigrasi, terutama dari negara berkembang ke negara maju, mungkin sudah menjadi sesuatu yang sangat lumrah. Tengoklah warga India yang banyak bermigrasi ke Inggris; warga Pakistan dan Afghanistan yang berbondong-bondong ke Perancis; atau warga Cina yang bermigrasi ke Canada dan Australia.

Tetapi bermigrasi dari negara maju ke negara berkembang—terlebih-lebih ke pulau kecil macam Bali—dan memilih menjadi warga lokal, bukan hal biasa; mesti ada alasan kuat untuk itu.

Faktanya, jumlah orang bule yang menetap dan menjadi orang Bali sangat banyak, menyebar mulai dari ujung selatan (Nusa Dua dan Jimbaran) hingga ke ujung Utara pulau Bali (Lovina dan Pemuteran), mulai dari ujung Barat (Pekutatan dan Jembrana) hingga ujung Timur pulau (Tulamben, Karangasem.)

Alasan kuat macam apa, kira-kira, yang membuat seorang bule memilih jadi orang Bali?

Setelah diamati, ternyata masing-masing memiliki alasan yang berbeda, namun semuanya berawal dari suatu peristiwa yang sangat klasik sekaligus prinsipiil, yaitu: JATUH CINTA.

Inilah 5 macam jatuh cinta yang membuat bule memilih jadi Orang Bali:

1. Jatuh Cinta Pada Orang Bali
Seorang bule jatuh cinta pada wanita/pria Bali, menikah lalu menjadi orang Bali, adalah fenomena yang paling banyak terjadi—mungkin sejak jaman Belanda beberapa ratus tahun yang lalu.

Cinta dan asmara, tak mengenal suku bangsa, ras, agama dan golongan. Kebutuhan dasar manusia yang tidak bisa ditunda, diubah, apalagi dimanipulasi atau ditolak begitu saja.

Pesona wanita dan pria Bali di mata pria dan wanita bule, sudah banyak diungkapkan di berbagai media. Beberapa kisah asmara mereka ada yang sampai melegenda, menghias majalah-majalah luar negeri, menginspirasi para penulis buku, dan menjadi buah bibir masyarakat dunia selama berpuluh-puluh tahun lamanya.

Sebut saja kisah asmara Antonio Blanco dengan Ni Ronji misalnya, yang membuat pelukis asal Spanyol ini rela menetap dan menjadi orang Bali, hingga diaben saat meninggal.

Kisah melegenda lainnya adalah antara Le Mayeur, seniman asal Swedia dengan Ni Pollok, yang namanya masih tertulis jelas di Museum Le Mayeur yang berlokasi di Sanur.

Antonio Blanco dan Le Mayeur tentu hanya 2 diantara puluhan atau mungkin ratusan orang bule yang jatuh cinta pada wanita Bali, lalu menjadi orang Bali. Dan tak sedikit juga wanita bule yang jatuh cinta dengan pria Bali, melakoni proses ‘Suddhi Wadani’ (mengukuhkan diri sebagai penganut Hindu), upakara ‘pawiwahan’ (pernikahan), dan akhirnya menjadi orang Bali seutuhnya, terlepas apakah tinggal di dalam atau luar Bali

2. Jatuh Cinta Pada Keindahan Alam Bali
Bule menjadi orang Bali karena mendapat jodoh orang Bali, mungkin fenomena yang paling banyak. Bisa dikenali dengan mudah ketika melihat pria Bule menggendong anak didampingi oleh wanita Bali atau pria Bali menggendong anak kebule-bulean dan didampingi oleh wanita bule, di ruang-ruang publik.

Tak kalah banyaknya adalah pria/wanita bule yang berpasangan dengan bule lainnya, dan menjadi orang Bali. Ini bisa ditemukan di Ubud misalnya atau di daerah dataran tinggi seperti Bedugul atau Bangli. Banyak juga yang tinggal di daerah-daerah urban seperti Kuta, Legian, Kerobokan, Seminyak, Jimbaran, Sanur atau Canggu.
Mereka memilih jadi orang Bali bukan karena jatuh cinta pada orang Bali, melainkan karena jatuh cinta pada keindahan alam Bali. Bule yang seperti ini biasanya turut aktif mengkampanyekan pentingnya menjaga kelestarian alam—mereka tidak ingin Bali menjadi rusak, entah dengan bergerak sendiri atau bersama-sama dalam organisasi tertentu (LSM misalnya.)

Keindahan Bali yang sering digambarkan sebagai “alam yang masih perawan”, molek dan menawan hati, sudah terkenal di seluruh penjuru dunia. Jatuh cinta pada keindahan alam Bali adalah alasan paling lumrah kedua setelah jatuh cinta pada orang Bali.

3. Jatuh Cinta Pada Pola, Orientasi dan Gaya Hidup Orang Bali
Bule, sejak nenek moyangnya sudah terbiasa dengan kehidupan serba kompleks, dimana sebagian besar waktu mereka habiskan untuk mengejar ambisi. Dua dasawarsa belakangan ini mereka sudah mulai bosan dengan yang namanya ‘tactic’, ‘multi-tasking’, ‘burnout.’ Mereka sudah mulai muak dengan “assertive no”, sudah bosan dengan kerja yang serba berpamrih. Bule sudah kenyang dengan semua itu.

Mereka berlibur ke Bali, berinteraksi dengan orang Bali, lalu jatuh cinta. (Perhatikan kehangatan interaksi antara gadis bule dengan odah dari Kintamani di bawah ini; tatapan mata odah yang hangat tersambut oleh cerahnya senyuman si gadis bule.)

Itu banyak terjadi sebelum tahun 90-an, pada saat pola, orientasi dan gaya hidup orang Bali masih sederhana, jujur, dan peduli terhadap orang lain, ‘paras-paros selulung sebayantaka’. Pada saat orang Bali masih lebih sering bilang “nggih” (iya) dibandingkan bilang “No” (tidak). Ketika orang Bali lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menjalankan “swadarma” (mengikuti perputaran karma) ketimbang saling-sikut.

‘Pola-orientasi-dan-gaya hidup’ orang Bali yang seperti itu, dalam pandangan bule, tidak sekedar baik, melainkan indah, menawan, dan menyentuh sanubari. Mereka tergugah dan jatuh cinta pada ‘pola-orientasi-dan-gaya hidup’ orang Bali yang indah itu, lalu memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya di Bali, bersama orang-orang sederhana, berada di lingkungan orang-orang jujur, dan berdampingan dengan orang-orang yang peduli terhadap orang lain.

4. Jatuh Cinta Pada Yoga dan Spritualitas Orang Bali
Di tengah pola hidup yang penuh tekanan, bule semakin menyadari bahwa antibiotik dan obat modern lainnya hanya solusi jangka pendek, dan menimbulkan ekses (buruk) dalam jangka panjang.

Sementara, hiruk-pikuk hiburan di kota metropolitan tak lebih dari sebuah pelarian sementara; stress datang lagi begitu mereka kembali ke rutinitas sehari-hari. Dan… mendatangi rumah ibadah agama yang dianut juga tak banyak mengubah keadaan, mereka tetap merasa kosong, kering dan haus akan “sesuatu.”

Mereka pergi mencari “sesuatu” itu ke wilayah selatan bumi ini, ada yang ke Mexico, ada yang ke Peru, ada yang ke India, ada yang ke Tibet, ada yang ke Jepang, dan ada yang ke Bali.

Itulah awal kesadaran para bule akan keistimewaan spiritualitas Hindu dan Budha, secara umum, lalu berubah menjadi trend gaya hidup ‘minimalism-and-obscurity‘ yang banyak diadopsi oleh kaum urban di dunia Barat sana. Sebuah gaya hidup yang menikmati kesederhanaan, sedanya, dan melupakan masa lalu tanpa perlu mengkhawatirkan masa depan. titik-balik dari hedonisme yang sempat menjangkiti Orang Barat selama berabad-abad sejak revolusi indutri di Inggris Raya sana.

Sebut saja Steve Jobs atau aktor ganteng Richard Gere misalnya.

Petuah Swami Vivekananda (seorang penulis sastra Hindu terkenal dari India) menjadi semacam “Daily Bread” baru bagi mereka.

Deepak Chopra Center selalu dibanjiri oleh Yogis-Yogis baru berambut pirang.
Mereka memerlukan spritualitas yang tidak semata-mata mengajarkan tentang “surga-dan-neraka”, yang tidak semata-mata mengandung perintah dan doktrin, melainkan mengajarkan mereka tentang cara hidup. Dan mereka menemukan itu di Hindu, seperti yang mereka katakan, “that not only a religion; rather, it is a way of life.” Sebuah cara hidup yang tidak saja membuat mereka lebih sehat, melainkan juga lebih tenang, damai secara rohani, sekaligus lebih bergairah.

Yang agak unik adalah fenomena dimana seorang bule Hawaii beristrikan orang Amerika keturunan Jepang (pernah ngobrol dengan penulis sekitar awal tahun 2000-an tetapi sekarang sudah kehilangan kontak) mendapat wangsit untuk menjadi seorang ‘Pemangku’ (pengantar doa) di salahsatu pura di Tabanan. Dia terhubung dengan Bali, secara spiritual, jauh sebelum berkunjung untuk pertamakalinya. Si bule yang satu ini, menurut pengakuannya, sampai bikin sanggah dan pura di Hawaii sana.

Bule yang menjadi orang Bali karena ketertarikan spiritualitas, bisa dikenali dengan melihat Pura yang cukup besar di rumahnya (semacam pemerajan alit yang terdiri dari Padmasana, dan beberapa Pelinggih saja—tanpa Meru), lengkap dengan ‘lebuh’ yang selalu berisi ‘canang’ dan ‘nasi pengeluar’ setiap sore, serta memiliki kamar suci untuk bermeditasi.

5. Jatuh Cinta Pada Kreatifitas dan Kesenian Orang Bali
Oleh bule, masyarakat Bali dikenal sebagai orang-orang yang kreatif dan memiliki talenta seni—menghasilkan berbagai macam produk seni dan kerajinan tangan yang tak ada duanya di dunia, dalam hal keunikan, hanya dengan menggunakan alat sederhana.
Banyak bule yang jatuh cinta pada itu dan berkeinginan untuk menyalurkan kreatifitas dan karya seni orang Bali ke pasar-pasar mancanegara, lalu mendirikan perusahaan dagang (trading company) dan agen perdagangan (trading agency).

Kesibukan mereka mengkanalkan hasil kreatifitas dan seni orang Bali membuat para bule lebih banyak tinggal di Bali, berinteraksi dan membina hubungan dengan orang Bali. Pertimbangan biaya perjalanan dan akomodasilah yang akhirnya membuat mereka memutuskan untuk pindah, menetap, dan menjadi bagian dari masyarakat Bali.

Apakah fenomena ‘bule-menjadi-orang-Bali’ adalah sesuatu yang perlu dibanggakan? Terlepas dari persoalan perlu-atau-tidaknya berbangga, beberapa pertanyaan yang mungkin penting untuk kita—sebagai orang Bali—jawab adalah:

Begitu banyak bule yang memilih menjadi orang Bali dengan berbagai alasan; perlukah kita mengubah jati diri menjadi sesuatu yang lain?

Orang bule saja begitu mencintai kesederhanaan pola, orientasi dan gaya hidup orang Bali bahkan ada yang konon sampai merasa iri dalam konteks positif; perlukah orang Balinya sendiri mengubah itu menjadi sesuatu yang kompleks—demi ‘membeli’ gimmick globalisasi dan moderenitas?

Orang bule saja sudah muak dengan kata “Assertive No”—yang berimplikasi pada peningkatan stress—dan jatuh cinta pada kata “nggih” (iya)—yang menyiratkan penerimaan dan koperatifitas; perlukan kita belajar ngotot mengatakan “tidak” dengan lantang?

Orang bule saja jatuh cinta pada jalan hidup dan spiritualitas orang Bali; perlukah mengubah jalan hidup dan spiritualitas yang sudah kita miliki menjadi sesuatu yang lain?

Orang bule saja memilih menjadi orang Bali; perlukan kita menjadi orang lain?

Orang bule yang mendunia saja bangga menggunakan nama Made Wijaya; perlukah kita berganti nama menjadi Michael Robertino supaya diterima oleh komunitas global?


Orang bule saja bangga dan bersukur telah memilih jadi orang Bali; tidakkah, setidak-tidaknya, kita perlu bersukur menjadi orang Bali?

Bayi Sering di Ganggu Makhluk Halus, Inilah Sebab dan Solusinya

Add Comment

Menjaga bayi adalah pekerjaan yang gampang-gampang sulit. Oleh karena itu, diperlukan kesabaran dan ketelatenan. Meski demikian, terkadang sebagai pengasuh, terutama orang tua, bisa saja mengalami hal yang membingungkan. Misalnya bayi tiba-tiba menangis tak wajar pada jam-jam tertentu, khususnya tengah malam. Ketika dicek secara medis, ternyata si bayi sehat walafiat. Namun, tetap saja setiap malam si bayi menangis tidak karuan, seperti ketakutan. Bagaimana cara menangkalnya?

Sebagai masyarakat nusantara, khususnya Bali, fenomena semacam itu tak jarang dialami keluarga yang baru dikaruniai seorang anak. Oleh karena itu, bayi orang Bali diperlakukan dengan sangat ketat, terutama dari segi ritual. Perlakuan bayi, ari-ari, dan sang ibu yang baru melahirkan, sangat spesial.

Salah satu akademisi Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Dr. I Made Adi Surya Pradnya atau yang populer dengan nama Jro Dalang Nabe Roby, tak menampik ada kepercayaan masyarakat Bali terhadap fenomena gaib yang terjadi pada bayi. Masyarakat Bali yang lekat dengan budaya religius magis, kata dia, percaya jika bayi rawan diganggu oleh makhluk halus atau orang yang mengamalkan ilmu hitam.

“Dalam Kanda Pat Rare, bayi disebut orang yang masih suci. Jadi, orang yang masih suci menjadi ‘makanan empuk’ dari orang-orang yang mengamalkan ilmu gaib secara negatif.

Konon, makhluk halus atau orang yang mengamalkan ilmu hitam, lanjutnya, mencium aroma bayi yang baru lahir seperti masakan yang lezat. “Jadi, baunya sangat enak, seperti masakan,” ungkapnya.

Berkenaan dengan hal itu, bayi menurutnya harus mendapat perlakuan ekstra, tak hanya secara medis, juga secara ritual. Tak hanya si bayi, namun berdasarkan ajaran Kanda Pat, seorang lahir ke dunia bersama Catur Sanak atau empat orang saudara. Yang paling tua berwujud fisik yeh nyom (air ketuban) dan dinamakan Anggapati. Kedua berwujud fisik getih (darah) dengan nama Mrajapati. Ketiga berwujud fisik ari-ari (plasenta) dengan nama Banaspati. Sedangkan yang keempat berwujud fisik lamas (lapisan lemak yang membungkus janin) dengan nama Banaspati Raja. Keempat saudara inilah yang dipercaya menemani dan menjaga manusia selama hidupnya, meski kelak tak ada lagi wujud fisiknya, sehingga harus diperlakukan dengan hati-hati.

Salah satu yang biasanya dibawa pulang ke rumah dan dikubur di pekarangan adalah ari-ari. Ari-ari tersebut pun tak sekadar dikubur, namun diberikan ritual dan dijaga dengan berbagai benda, seperti ditutup dengan batu, diberi pandan berduri, dan ditutup dengan keranjang. Bahkan, setiap hari diberikan sesajen dan diberikan penerangan berupa lampu minyak. “Menjaga Sang Catur Sanak ini penting, karena untuk menyerang si bayi, bisa saja melalui nyama patnya,” jelas doktor termuda IHDN tersebut.

Selain itu, biasanya distanakan pula Sang Hyang Kumara di pelangkiran. Seperti yang tercantum dalam mitologi, Sang Hyang Kumara atau Sang Hyang Rare Kumara adalah putra Dewa Siwa yang bertugas menjaga bayi.

Nah, jika segala perlakuan secara medis maupun ritual telah dilaksanakan, namun si bayi menangis setiap sandi kala (pergantian waktu), khususnya pada sore hari menjelang malam atau pada tengah malam, maka tidak menutup kemungkinan ada hal gaib yang mengganggu.

“Bayinya sehat, mengapa menangis terus. Padahal, susu juga sudah diberikan, ternyata tetap menangis. Pasti ada faktor lain,” ujarnya.

Dengan demikian, Jro Dalang Nabe Roby mengatakan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, Sang Hyang Rare Kumara setiap hari harus dibantenin (diberikan sesajen) dan diisi mainan. Demikian pula ari-arinya. “Apabila si bayi masih menangis setiap jam 12 malam, maka perlu dibuatkan segehan kepelan berisi nasi wong-wongan yang dihaturkan di bawah tempat tidur si bayi. Itu dihaturkan sebagai upah, agar tidak si bayi yang diganggu,” paparnya.

Selanjutnya, ia mengatakan, ada cara lainnya, yakni dengan air klebutan atau air yang diambil dari mata air langsung atau sumur. Selanjutnya air tersebut dilemparkan ke atap dapur dan air yang jatuh ditadah dengan kukusan dan diwadahi panci tanah liat.

“Air tersebut kemudian dipercikkan sebagai tirtha kepada bayi. Itu panugerahan Brahma Geni. Jadi, itu yang dipakai ngeseng (membakar) energi negatif,” jelasnya.

Selain itu, Jro Dalang mengatakan, perlu juga pengecekan pekarangan. “Sebelum bayi dibawa ke rumah, rumah harus dibersihkan dahulu. Terutama di panunggun karang, harus ngatur piuning dan menyampaikan bahwa akan ada anak kecil di rumah itu dan agar ikut menjaga,” bebernya.

Dari semua itu, ia menegaskan, yang paling penting untuk menenangkan bayi adalah sentuhan dan pelukan seorang ibu. Tidak bisa dipungkiri, antara bayi dan ibu ada ikatan jiwa dan emosional yang sangat kuat. “Jadi, sentuhan dan pelukan seorang ibu sangatlah penting,” tandasnya.

Pura Campuhan Windhu Segara - Padukan Beragam Aliran Untuk Pelukatan Lebur Mala

Add Comment

Pura Campuhan Windhu Segara, salah satu pura unik yang ada di Denpasar. Kawasan suci yang berlokasi di pinggir Pantai Padang Galak, Sanur ini, merupakan perpaduan dari beragam kultur dan aliran kepercayaan yang menyatu dalam satu tempat persembahyangan. Kenapa belakangan begitu mencuat namanya?

Pura Campuhan Windhu Segara diyakini sebagai tempat bagus untuk Malukat (membersihkan fisik dan nonfisik) dan memohon rezeki. Tak hanya pada hari tertentu, bahkan hampir setiap hari tempat ini penuh dipadati pamedek yang ingin sembahyang dan Malukat. Walaupun keberadaan pura ini tergolong cukup baru ( mulai dibangun 7 Juli 2005), namun tempat Malukat ini cepat dikenal. Mengapa begitu populer? Pemangku sekaligus pendiri pura, Jro Mangku Gede Alit Adnyana memaparkan, pura ini memadukan berbagai kultur aliran, seperti siwa dengan linggamnya, ada juga patirtaan Dewi Subadra dan palinggihan Dewi Nyai Roro Kidul.

“Mungkin karena menjadi perpaduan dari beragam aliran dan budaya itu, yang membuat banyak masyarakat yang tertarik,” papar Jro Mangku Adnyana kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), pekan kemarin.

Pura Campuhan ini terletak di tepi Pantai Padang Galak, karena campuhan sendiri berarti campuran. Campuran yang dimaksud adalah campuran atau pertemuan antara air laut dan sungai. Begitu juga dengan Pura Campuhan Windhu Segara yang lokasinya ada di pinggir pertemuan antara air laut Padang Galak dan air tawar yang mengalir dari aliran Sungai Ayung yang populer dengan atraksi rafting atau arung jeram.

Dikatakannya, pura ini berawal dari kisah dari seorang pemangku yang bernama Jro Mangku Gede Alit Adnyana, yang sempat menderita panyakit gagal ginjal. Upaya untuk berobat sudah dilakukan ke berbagai daerah, dan telah dilakukan dengan beragam cara. Namun, sakitnya tak kunjung sembuh, bahkan sempat putus asa dan pasrah.

Pemangku yang memiliki nama lain sebagai Mahaguru Hatria Narayanam ini, mengatakan,
pembangunan pura ini terjadi secara tidak sengaja, berawal saat ia mengalami putus asa akan kehidupannya.

Suatu ketika, Jro Mangku Adnyana menemukan sebatang kayu di pinggir Pantai Padang Galak, dan anehnya kayu tersebut mengeluarkan asap. Ia berkeyakinan api tersebut pertanda akan kebesaran Tuhan.

Setelah kejadian itu, ia juga mendapat pewisik (petunjuk gaib) untuk membangun parahyangan Ida Bhatara di tempat kayu tersebut ditemukan. “Saya berusaha untuk menyanggupi dan ajaibnya penyakit saya sembuh,” paparnya. Tempat ditemukan kayu tersebut kini digunakan sebagai tegak (tempat) mendirikan palinggih.

Setelah melalui perjuangan panjang, pada 7 Juli 2005 Pura Campuhan Windhu Segara akhirnya mulai dibangun. Dukungan dari berbagai pihak mengalir. Tidak hanya dari umat Hindu saja yang berpartisipasi, umat agama lain, seperti umat Islam, Budha dan Kristen turut memberikan sumbangan, sebagai wujud tolerenasi beragama .

“Nah di situ letak keunikannya. Selain pencampuran antara air laut dan air sungai, dan juga perpaduan kultur, di sini juga bebas dalam perpaduan keyakinan. Siapa saja boleh datang untuk malukat dan sembahyang. Yang penting mereka percaya. Siapapun di terima, tanpa harus membawa banten apa pun,” ujarnya.

Memang benar, tak hanya masyarakat lokal Bali yang memadati pura tersebut, masyarakat luar daerah serta tamu mancanegara pun datang untuk Malukat serta sembahyang.

Hal senada dipaparkan Rusmini, warga Klaten, Jawa Tengah ini datang untuk nyekar di Palinggih Nyai Roro Kidul yang terdapat di Pura Campuhan Windhu Segara.

Pura Campuhan Windhu Segara ini akhirnya dibuatkan prasasti, berisi tanggal berdiri pura, 7 Juli 2005 oleh Mahaguru Altreya Narayana yang sekaligus sebagai pangawit. Dan, selanjutnya diresmikan 9 September 2016 oleh Gubernur Bali I Made Mangku Pastika dan diketahui juga oleh Ida Dalem Semaraputra sebagai wakil dari Puri Klungkung. Adapun palinggih yang ada di kawasan Pura Campuhan Windhu Segara adalah Palinggih Betara Wisnu, Padmasana, Rambut Sedana, Kanjeng Ratu, Dewi Kwam In, Pusering Jagat, Panglukatan, Ratu Bagus Padang Galak, Ratu Manik Segara, Ratu Gede Dalem Ped, Siwa Budha, Taksu Agung, Hyang Baruna, Tajuk Kiwa dan Tengen.

Selain pujawali ataupun piodalan di Pura Campuhan Windhu Segara, dilakukan juga beberapa upacara unik seperti masakapan pasih untuk merayakan pertemuan antara air laut dan air sungai. Selain itu, juga ada upacara matatah, seperti halnya upacara yang dilakukan kepada manusia.

“Sebenarnya tirta panglukatan di sini fungsinya sebagai tirta pangleburan mala. Biasanya buang sial, kekotoran dalam diri. Namun itu kembali lagi ke pribadi, ” urai Mahaguru yang seempat diciduk polisi hutan ketika melaksanakan tapa brata di hutan Buleleng, beberapa bulan lalu.

Dia mencontohkan, ada yang datang untuk nunas di Patirtan Dewi Badra , biasanya untuk mereka yang berjualan. Nah ada juga yang ingin memohon kesehatan. Banyak juga yang memohon jodoh, diberkati anak dan rezeki. Ingin Malukat?

Ada beberapa sarana yang diperlukan saat bersembahyang dan Malukat di Pura Campuhan Windhu Segara, pertama adalah banten pajati. Minimal satu buah pajati untuk di tempat panglukatan Ida Bhatara Wisnu dan satu buah bungkak (kelapa gading). Kalau membawa pajati lebih dari satu, bisa dihaturkan di tempat Malukat berikutnya, yaitu di Pura Beji dan Penataran Utama Pura.

Kelapa gading biasanya sudah dijual di lokasi dan sudah dibuka (kasturi). Namun, agar lebih aman karena bisa saja kehabisan, bungkak nyuh gading sebaiknya dibawa dari rumah dan siapkan pisau untuk membukanya.

Urutan Malukat di Pura Campuhan Windhu Segara

1. Panglukatan di tempat pemujaan Ida Sang Hyang Wisnu dengan sarana pajati dan nyuh gading. Pamedek akan dilukat (diruwat) oleh Jro Mangku dengan guyuran air suci, kemudian dilanjutkan malukat dengan bungkak kelapa (nyuh) gading.

2. Panglukatan berikutnya di Pantai Padang Galak, tepatnya di lokasi Campuhan atau tempat bertemunya air laut dengan air sungai.

3. Panglukatan di Pura Beji. Di pura ini ada tiga tahap penglukatan, yaitu di Tirta Darmada, Tirta Dewi Gangga, dan Tirta Linggam. Setelah selesai Malukat, pamedek melakukan persembahyangan di natar (halaman) Pura Beji.

Setelah proses Malukat di Pura Beji dan melakukan persembahyangan di natar Pura Beji, pamedek bisa ganti pakaian memakai pakaian kering atau tetap bisa memakai pakaian basah tersebut, untuk melanjutkan persembahyangan di natar utama Pura Campuhan Windhu Segara. Setelah selesai melakukan persembahyangan di Palinggih Utama Pura Campuhan Windhu Segara, selanjutnya melakukan persembahyangan di Palinggih Kanjeng Ratu di sebelah selatan (kanan) palinggih utama.

Cara Mendekatkan Diri Dengan KandaPat

Add Comment
Kanda Pat adalah Empat Teman: Kanda = teman, Pat = empat, yaitu kekuatan-kekuatan Hyang Widhi yang selalu menyertai roh (Atman) manusia sejak embrio sampai meninggal dunia mencapai Nirwana. Menurut Kitab Suci Lontar Tutur Panus Karma, nama-nama Kanda Pat berubah-ubah menurut keadaan/ usia manusia:

Usia Manusia Kanda 1 Kanda 2 Kanda 3 Kanda 4
Kandapat Rare:
Embrio Karen Bra Angdian Lembana
Kandungan 20 hari Anta Prata Kala Dengen
Kandungan 40 minggu Ari-ari Lamas Getih Yeh-nyom
Lahir, tali pusar putus Mekair Salabir Mokair Selair
Kandapat Bhuta:
Bayi bisa bersuara Anggapati Prajapati Banaspati Banaspatiraja
Kandapat Sari:
14 tahun Sidasakti Sidarasa Maskuina Ajiputrapetak
Bercucu Podgala Kroda Sari Yasren
Kandapat Atma:
Meninggal dunia Suratman Jogormanik Mahakala Dorakala
Kandapat Dewa:
Manunggal (Moksa) Siwa Sadasiwa Paramasiwa Suniasiwa

Bentuk-bentuk kandapat yang dapat dilihat dan diraba secara nyata adalah ari-ari, lamas, getih, dan yeh-nyom. Setelah mereka dikuburkan (segera setelah bayi lahir) maka perubahan selanjutnya adalah abstrak (tak berwujud) namun dapat dirasakan oleh manusia yang kekuatan bathinnya terpelihara.

Bagan di atas dapat juga dibaca terbalik dengan pengertian sebagai berikut:

Hyang Widhi mewujudkan diri menjadi empat manifestasi, kemudian keempatnya itu, yaitu:
1. Hyang Siwa selanjutnya mewujudkan dirinya menjadi ari-ari
2. Hyang Sadasiwa mewujudkan diri sebagai lamas
3. Hyang Paramasiwa mewujudkan diri menjadi getih, dan
4. Hyang Suniasiwa mewujudkan diri menjadi Yeh-nyom.

Keempat teman yang abstrak ini menyertai terus sampai manusia mati dan rohnya menghadap ke Hyang Widhi. Mereka juga menjaga dan melindungi roh, serta mencatat sejauh mana atman (roh) terpengaruh oleh indria keduniawian. Semua pengalaman hidup di record oleh Sang Suratman yang dahulu berbentuk ari-ari. Inilah catatan subha dan asubha karma yang menjadi penilaian dan pertimbangan kesucian roh untuk menentukan tercapainya moksa (bersatunya atman-brahman) ataukah samsara (menjelma kembali). Kandapat ada dalam diri/ tubuh manusia, namun ketika tidur, kandapat keluar dari tubuh. Maka mereka perlu dibuatkan pelinggih berupa “pelangkiran” di kamar tidur, tempat bersemayamnya kanda pat ketika kita tidur pulas.

Kandapat namanya selalu berubah sesuai dengan pertumbuhan manusia, karena pengaruh Panca Indria kepada Roh/ Atma juga berubah-ubah. Jadi nama yang berubah untuk memberi batasan pada masing-masing tingkat kekuatan pengaruh panca indria sejalan dengan pertumbuhan manusia. Panca Indria dapat menyebabkan keterikatan atman oleh karena itu atman perlu dilindungi. Yang bisa membantu manusia melindungi dirinya dari godaan panca indria adalah Kandapat.

Jika jalinan/ hubungan manusia dengan Kandapat terhambat atau bahkan tidak ada hubungan sama sekali (“tusing pati rungu”) maka perlindungan Kandapat-pun berkurang atau tidak ada. Seperti lagunya Bimbo saja: …”Engkau dekat, Aku dekat, engkau jauh, Aku jauh”… begitu kira-kira logikanya. Orang-orang kebathinan biasanya mulai dengan menguatkan Kandapatnya ini dengan cara selalu ingat dan membagi suka/ duka dengannya. Jika sudah dekat, Kandapat bisa jadi guru dan penuntun karena pada hakekatnya Kandapat itu juga Manifestasi Hyang Widhi.

Kandapat adalah manifestasi Brahman (Hyang Widhi) yang Esa; jadi ia akan selalu ada dan selalu sama pada penjelmaan-penjelmaan manusia berikutnya.

Beberapa cara mendekatkan diri (roh dalam diri) dengan Kandapat :

1. Membuat pelangkiran dari kayu di atas tempat tidur, sebagai stana Kandapat, sedangkan Kandapat diwujudkan dalam bentuk daksina lingga, yakni sebuah daksina yang dibungkus dengan kain putih/kuning. Kemudian dihaturi banten tegteg-daksina-peras-ajuman (pejati) dan setiap bulan purnama dibaharui/diganti, daksina lingganya tidak perlu diganti (biarkan selamanya di situ)

2. Setiap hari dihaturi banten saiban/jotan

3. Setiap mau meninggalkan rumah pamit ke Kandapat dan pulangnya membawa oleh-oleh makanan/kuwe, dll. sekedarnya saja, tanda ingat.

4. Setiap mau tidur sembahyang, seraya memohon Kandapat menjaga kita selama tidur.

5. Permohonan lain dapat juga diajukan di Kandapat itu.

6. Kalau gajian/mendapat hasil uang, dihaturkan dahulu di situ, biarkan semalam, keesokan harinya baru ‘dilungsur’ (tapi hati-hati pada pencuri, artinya pintu kamar dikunci)

Makna Dan Filosofi Hari Raya Galungan Dan Kuningan

Hari Raya Galungan dan Kuningan, yang biasanya jatuh pada hari Budha Kliwon Dungulan (Rabu Kliwon wuku Dungulan). Perayaan Hari raya galungan bagi masyarakat Hindu merupakan hari penting terciptanya Alam semesta beserta isinya, dimana dalam pelaksanaan Galungan sebagai simbolis kemenangan Dharma melawan Adharma (‘kemenangan Kebajikan melawan kejahatan’).

Seperti kita ketahui, Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. 

Dharma dan Adharma Pada hari raya suci Galungan dan Kuningan umat Hindu secara ritual dan spiritual melaksanakannya dengan suasana hati yang damai. Artinya dalam konteks tersebut kita hendaknya mampu instrospeksi diri siapa sesungguhnya jati diri kita, manusia yang dikatakan dewa ya, manusa ya, bhuta ya itu akan selalu ada dalam dirinya. Bagaimana cara menemukan hakekat dirinya yang sejati?, “matutur ikang atma ri jatinya” (Sanghyang Atma sadar akan jati dirinya).

Hal ini hendaknya melalui proses pendakian spiritual menuju kesadaran yang sejati, seperti halnya hari Raya Galungan dan Kuningan dari hari pra hari H, hari H dan pasca hari H manusia bertahan dan tetap teguh dengan kesucian hati digoda oleh Sang Kala Tiga Wisesa, musuh dalam dirinya, di dalam upaya menegakkan dharma didalam dirinya maupun diluar dirinya.

Sifat-sifat adharma (bhuta) didalam dirinya dan diluar dirinya disomya agar menjadi dharma (Dewa), sehingga dunia ini menjadi seimbang (jagadhita). Dharma dan adharma, itu dua kenyataan yang berbeda (rwa bhineda) yang selalu ada didunia, tapi hendaknyalah itu diseimbangkan sehingga evolusi didunia bisa berjalan.
Kemenangan dharma atas adharma yang telah dirayakan setiap Galungan dan Kuningan hendaknyalah diserap dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. 

Dharma tidaklah hanya diwacanakan tapi dilaksanakan, dalam kitab Sarasamuccaya (Sloka 43) disebutkan keutamaan dharma bagi orang yang melaksanakannya yaitu :

 “Kuneng sang hyang dharma, mahas midering sahana, ndatan umaku sira, tan hanenakunira, tan sapa juga si lawanikang naha-nahan, tatan pahi lawan anak ning stri lanji, ikang tankinawruhan bapanya, rupaning tan hana umaku yanak, tan hana inakunya bapa, ri wetnyan durlaba ikang wenang mulahakena dharma kalinganika”.

Artinya:
Adapun dharma itu, menyelusup dan mengelilingi seluruh yang ada, tidak ada yang mengakui, pun tidak ada yang diakuinya, serta tidak ada yang menegur atau terikat dengan sesuatu apapun, tidak ada bedanya dengan anak seorang perempuan tuna susila, yang tidak dikenal siapa bapaknya, rupa-rupanya tidak ada yang mengakui anak akan dia, pun tidak ada yang diakui bapa olehnya, perumpamaan ini diambil sebab sesungguhnya sangat sukar untuk dapat mengetahui dan melaksanakan dharma itu.

Di samping itu pula dharma sangatlah utama dan rahasia, hendaknyalah ia dicari dengan ketulusan hati secara terus-menerus. Sarasamuccaya (sloka 564) menyebutkan :

 “Lawan ta waneh, atyanta ring gahana keta sanghyang dharma ngaranira, paramasuksma, tan pahi lawan tapakning iwak ring wwai, ndan pinet juga sire de sang pandita, kelan upasama pagwan kotsahan”.

Artinya:
Lagi pula terlampau amat mulia dharma itu, amat rahasia pula, tidak bedanya dengan jejak ikan didalam air, namun dituntut juga oleh sang pandita dengan ketenangan, kesabaran, keteguhan hati terus diusahakan.
Demikianlah keutamaan dharma hendaknyalah diketahui, dipahami kemudian dilaksanakan sehingga menemukan siapa sesungguhnya jati diri kita. (WHD No. 436 Juni 2003).

Makna Hari Raya Kuningan
Hari Raya Kuningan atau sering disebut Tumpek Kuningan jatuh pada hari Sabtu, Kliwon, wuku Kuningan. Pada hari ini umat melakukan pemujaan kepada para Dewa, Pitara untuk memohon keselamatan, kedirgayusan, perlindungan dan tuntunan lahir-bathin. Pada hari ini diyakini para Dewa, Bhatara, diiringi oleh para Pitara turun ke bumi hanya sampai tengah hari saja, sehingga pelaksanaan upacara dan persembahyangan Hari Kuningan hanya sampai tengah hari saja. Sesajen untuk Hari Kuningan yang dihaturkan di palinggih utama yaitu tebog, canang meraka, pasucian, canang burat wangi.

Di palinggih yang lebih kecil yaitu nasi selangi, canang meraka, pasucian, dan canang burat wangi. Di kamar suci (tempat membuat sesajen/paruman) menghaturkan pengambeyan, dapetan berisi nasi kuning, lauk pauk dan daging bebek. Di palinggih semua bangunan (pelangkiran) diisi gantung-gantungan, tamiang, dan kolem.

Untuk setiap rumah tangga membuat dapetan, berisi sesayut prayascita luwih nasi kuning dengan lauk daging bebek (atau ayam). Tebog berisi nasi kuning, lauk-pauk ikan laut, telur dadar, dan wayang-wayangan dari bahan pepaya (atau timun). Tebog tersebut memaki dasar taledan yang berisi ketupat nasi 2 buah, sampiannya disebut kepet-kepetan. Jika tidak bisa membuat tebog, bisa diganti dengan piring.

Sesayut Prayascita Luwih : dasarnya kulit sesayut, berisi tulung agung (alasnya berupa tamas) atasnya seperti cili. Bagian tengahnya diisi nasi, lauk-pauk, di atasnya diisi tumpeng yang ditancapkan bunga teratai putih, kelilingi dengan nasi kecil-kecil sebanyak 11 buah, tulung kecil 11 buah, peras kecil, pesucian, panyeneng, ketupat kukur 11 buah, ketupat gelatik, 11 tulung kecil, kewangen 11 pasucian, panyeneng, buah kelapa gading yang muda (bungkak), lis bebuu, sampian nagasari, canang burat wangi berisi aneka kue dan buah.

Sesajen ini dapat juga dipakai untuk sesajen Odalan, Dewa Yadnya, Resi Yadnya dan Manusa Yadnya. Beberapa perlengkapan Hari Kuningan yang khas yaitu: Endongan sebagai simbol persembahan kepada Hyang Widhi. Tamyang sebagai simbol penolak malabahaya. Kolem sebagai simbol tempat peristirahatan hyang Widhi, para Dewa dan leluhur kita.

Pada hari Rabu, Kliwon, wuku Pahang, disebut dengan hari Pegat Wakan yang merupakan hari terakhir dari semua rangkaian Hari Raya Galungan-Kuningan. Sesajen yang dihaturkan pada hari ini yaitu sesayut Dirgayusa, panyeneng, tatebus kehadapan Tuhan Yang Maha Esa.


Dengan demikian berakhirlah semua rangkaian hari raya Galungan-Kuningan selama 42 hari, terhitung sejak hari Sugimanek Jawa. (Iloveblue). Jadi inti dari makna hari raya kuningan adalah memohon keselamatan, kedirgayusan, perlindungan dan tuntunan lahir-bathin kepada para Dewa, Bhatara, dan para Pitara.